[Book Review] Totto-chan, The Little Girl at the Window, Tetsuko Kuroyanagi

Leave a Comment
Original Title: 窓ぎわのトットちゃん (Totto-chan, The Little Girl at the Window)
Published: May, 15th 1996 by Kodansha (First published October, 1st 1982)

by 
Rating: 5/5

Having eyes, but not seeing beauty; having ears, but not hearing music; having minds, but not perceiving truth; having hearts that are never moved and therefore never set on fire. These are the things to fear, said the headmaster.



Novel Totto-chan menceritakan kisah masa kecil gadis cilik bernama Tetsuko Kuroyanagi (Totto-chan). Totto-chan adalah gadis kecil yang manis dan sangat aktif. Sama seperti anak-anak pada usianya, Totto-chan juga memiliki rasa penasaran yang amat besar. Ia senang mencoba segala sesuatu yang baru ditemuinya, mengungkapkan segala keunikan dari hal-hal yang dilihatnya dan seperti itulah anak-anak. 

Totto-chan sudah memasuki usia sekolah. Di sekolahnya, Totto-chan tidak mengalami banyak kesulitan. Hanya saja, rasa ingin tahu yang besar pada diri Totto-chan membuat semua guru dan teman-temannya di sekolahan menjadi terganggu dan kesal dengan ulahnya. Totto-chan yang masih sangat lugu merasa bahagia ketika mendapati meja yang lacinya dapat dibuka ke atas. Di rumahnya, semua meja memiliki lemari yang harus ditarik ke depan atau ke arah samping, tapi di sekolah itu, Totto-chan memiliki meja dengan laci yang berbeda. Selama jam pelajaran, ia terus menerus membuka dan menutup laci meja belajarnya. Membuka laci meja- mengambil buku - menutup laci meja - membuka lagi - mengambil penghapus - menutup lagi, dan begitu seterusnya. 

Tidak hanya itu, setelah bosan dengan meja barunya, Totto-chan juga memanggil pemusik jalanan yang lewat di sekitar pekarangan sekolahnya. Biasanya, pemusik jalanan tersebut selalu berhenti benyanyi ketika melewati area sekolahan. Namun, hari itu Totto-chan memanggil mereka untuk mendekat dan mengajak seluruh kawan di kelasnya untuk menyaksikan pemusik jalanan tersebut menyanyi dan guru yang sedang mengajar pun terpaksa bersabar lagi menyaksikan jam mengajarnya terganggu oleh Totto-chan.

Setelah pemusik jalanan selesai dan murid-murid lainnya kembali belajar, Totto-chan masih sibuk berdiri di depan jendela. Ia berteriak pada entah-siapa, kata gurunya. Ia terus menerus bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan?". Berulang-ulang, tanpa ada yang menjawab. Karena penasaran, sang guru mendekati jendela tempat Totto-chan berdiri dan berteriak pada entah-siapa itu. Ternyata ia sedang berbicara pada burung-burung yang sedang membuat sarang. Dan atas semua ulahnya itu, Totto-chan dikeluarkan dari sekolahnya.

Mama tidak memarahi Totto-chan karena ia telah dianggap nakal oleh gurunya dan dikeluarkan dari sekolahnya. Mama sangat memaklumi sifat anaknya itu. Lantas, Totto-chan dipindahkan ke sebuah sekolah bernama Tomoe Gakuen di kawasan Jiyugoaka. Sekolah unik dengan gerbang yang berdaun dan berakar, kelas-kelas berupa gerbong kereta api bekas, dan seorang kepala sekolah yang sangat luar biasa. 

Totto-chan sangat bahagia bersekolah di Tomoe Gakuen. Sekolahnya memang tidak besar, namun sangat asri dan unik. Ia juga memiliki banyak teman. Di Tomoe Gakuen, anak-anak dididik dengan cara yang berbeda oleh kepala sekolah, Mr. Kobayashi. Mereka dibiarkan berkembang dalam alam, belajar bersama alam dan membaur dalam alam. Mr. Kobayashi tidak ingin anak-anak didik di Tomoe berkembang sesuai dengan ekspektasi ataupun campur tangan orang dewasa. Anak-anak dibiarkan bebas memilih pelajaran apa yang mereka sukai untuk dipelajari, membiarkan anak-anak bebas berkreasi dengan imajinasi mereka masing-masing, namun tetap mengawasi dan memberikan bimbingan seperlunya. 

Di Tomoe, semua anak dapat mengembangkan minat dan bakat mereka sesuka hati. Anak yang menyukai musik dapat belajar irama dan musik di kelasnya, anak yang menyukai sains dapat pula belajar tentang ilmu sains dikelasnya. Semuanya diserahkan kepada anak-anak didik, mereka yang memilih dan menjalaninya. Mereka diajarkan bertanggung jawab atas segala yang mereka lakukan atau yang mereka pilih. Mereka juga dibiasakan untuk menjadi orang yang bijak, mampu mengalah dari ego mereka demi kebaikan banyak orang, menyayangi sesama manusia tanpa memandang siapa yang lebih dan siapa yang kurang dan mencintai alam serta lingkungan mereka. 

Mr. Kobayashi juga tidak pernah berkata kasar atau memarahi anak-anak didiknya. Ia memperlakukan anak-anak di Tomoe dengan sangat istimewa, tapi tidak memanjakan. Ia membekali anak-anak didiknya dengan kasih sayang layaknya seorang ayah, memberikan kesempatan untuk anak-anak agar bisa mengembangkan keberanian berbicara di depan umum, memastikan anak-anak didiknya mendapatkan gizi yang seimbang dengan asupan makanan yang disebutnya 'sesuatu dari pegunungan dan sesuatu dari laut', dan ia selalu berkata pada Totto-chan yang pernah dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap nakal bahwa, "Kau adalah anak yang benar-benar baik, Totto-chan." Dan dengan semua perlakuan itu, satu per satu anak didik di Tomoe Gakuen telah tumbuh dan kembang menjadi individu yang mandiri, pemberani, percaya diri, cerdas, dan istimewa. 


Jujur saja, novel Totto-chan ini sangat (sangat) bagus. Banyak sekali pelajaran penting yang dapat kita ambil dari novel ini. Tidak hanya bagi seorang pendidik atau orang tua saja, usia muda bahkan anak-anak pun harusnya membaca buku seperti ini. Jauh dari kata menggurui, novel ini seperti mengingatkan kita pada kenyataan penting tentang kehidupan masa kanak-kanak bahwa pada dasarnya dunia anak adalah dunia bermain. Namun, anak-anak juga memiliki hak untuk dapat menuntut ilmu agar kelak ia dapat menjadi individu yang berguna. Dan novel Totto-chan menggambarkan bagaimana harusnya anak-anak dapat bermain sekaligus mendapatkan ilmu dalam permainan-permainan mereka. Anak-anak dibiarkan 'mengalir' dengan cara mereka sendiri, bergerak bersama alam sesuai keinginan mereka, mencari tahu segala teka-teki dan pengalaman hidup mereka, belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Lalu tugas orang dewasa hanya mengawasi, membimbing dan memfasilitasi mereka. 

Lewat novel ini, kita juga diperlihatkan bagaimana pendidikan di Jepang pada tahun 1930-an telah berkembang dengan sangat baik. Mr. Kobayashi menjadi salah satu orang yang berpengaruh dalam dunia pendidikan di Jepang. Dan ide cemerlangnya untuk mendirikan sekolah Tomoe Gakuen membuahkan hasil yang maksimal. Di akhir novel, Tetsuko (Totto-chan) menceritakan juga kehidupan teman-temannya yang pernah bersekolah di Tomoe dan mereka telah menjadi orang sukses di dalam dan di luar Jepang. 

Intinya, membaca novel Totto-chan membuat saya bernostalgia tentang masa kecil dulu, menggelitik seluruh indra dan membuat saya berkeinginan untuk menjadi orang tua dan pendidik yang hebat seperti Mama Totto-chan dan Mr. Kobayashi. 

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments: