Showing posts with label Books. Show all posts
Showing posts with label Books. Show all posts
25498974
Ayah
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman: 412 halaman
Rating: 4.15 (via Goodreads)

"Ayah" mengkisahkan kehidupan seorang Sabari sejak kecil hingga menjadi seorang ayah. Kisah persahabatannya hingga cinta pertamanya, lalu kisah perjalanannya dalam memperjuangkan cinta pertamanya hingga akhirnya, Marlena, gadis yang disukainya sejak remaja resmi menjadi istrinya karena sebuah tragedi. Sabari merelakan dirinya menjadi 'tumbal' atas kesalahan yang Lena lakukan sendiri. 

Akhirnya mereka resmi menikah. Namun, cinta dan kesetiaan Sabari tidaklah berjalan mulus. Lena, gadis yang dibesarkan dengan didikan keras oleh ayahnya memiliki sifat pemberontak dan menyukai kebebasan. Tak pernah sekalipun Lena dan Sabari menjalani kehidupan rumah tangga seperti normalnya. Lena yang memang sejak awal hanya terpaksa untuk menikahi Sabari pun, akhirnya melarikan diri setelah ia melahirkan Zorro, anak lelakinya. Lena mencari kebebasan, sementara Sabari dengan sabar membesarkan anak Lena. 

Sifat kebapakannya muncul seketika ia melihat anak lelaki itu tumbuh dan besar dalam pelukannya. Cintanya pada Zorro teramat besar. Setiap malam ada saja rencana yang dipikirkannya untuk membahagiakan Zorro kecil. Sabari senang membawa Zorro bersepeda menuju taman kota, ia bahagia melihat Zorro melambaikan tangan pada siapapun yang ditemui di perjalanan menuju taman kota. Sabari juga amat senang karena ia dapat menceritakan apa yang pernah diceritakan dari ayahnya saat Sabari masih kanak-kanak. Sabari menceritakan kembali dongeng dan melantunkan puisi yang pernah didengarkan waktu ia masih kecil, kepada Zorro.

Hidup Sabari luar biasa sempurna bersama Zorro meskipun pada akhirnya surat gugatan cerai dari Lena sampai ke tangan Sabari. Sabari dengan sabar menyikapi semua masalah dalam rumah tangganya tersebut sambil terus membesarkan dan merawat Zorro sepenuh hati. Namun, lagi dan lagi, cinta Sabari pada Zorro harus mengalami perjuangan besar untuk mencapai kebahagiaan yang sempurna.

25736858
Novel Hujan Bulan Juni
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Jumlah halaman: 144 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Rating: 3.34 (Goodreads)

Novel Hujan Bulan Juni bercerita tentang kisah cinta Sarwono dan Pingkan. Sarwono dengan Jawa yang kental dan Pingkan, gadis campuran Jawa dan Manado, yang lebih bahagia jika dianggap sebagai orang Jawa. Perbedaan tidak hanya terletak pada suku, tapi juga agama yang dianut keduanya. 

Karakter utama ini diceritakan dengan khasnya masing-masing. Sarwono yang tidak tegas, plin-plan dan kurang cekatan, serta Pingkan yang mandiri dan dewasa. Kedekatan keduanya tidak pernah diresmikan oleh Sarwono meskipun keduanya sama-sama mengetahui perasaan mereka saling memiliki. Semua orang juga sudah mengetahui bahwa Sarwono menyukai Pingkan, dan begitu pula sebaliknya. Tapi, lagi-lagi perbedaan suku, keyakinan, adat keluarga dan segala jenis tetek-bengek masalah pemilihan jodoh dan perjodohan menjadi hambatan bagi keduanya untuk mengarahkan perasaan mereka ke dalam suatu hubungan yang nyata dan serius.

Tak sampai di situ, Pingkan dan Sarwono terpaksa harus berjauh-jauhan karena Pingkan harus melanjutkan kuliahnya ke Kyoto. Saat itulah, Sarwono benar-benar terlambat menyatakan perasaannya secara resmi kepada Pingkan dan Sarwono secara terpaksa menyelesaikan hubungan mereka dengan cara yang tidak adil. 

Judul: Just One Year
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: Penguin Group (e-book)
Sekuel dari: Just One Day
Tahun Terbit: (Edisi) 2013
Rating: 4.5/5
Willem terbangun dari mimpi buruknya, di rumah sakit, di Paris. Dokter yang mengobatinya mengatakan bahwa ia dibawa oleh polisi dengan dugaan berkelahi. Willem tidak bisa mengingatnya dengan baik. Kepalanya terluka parah, bajunya yang bertuliskan 'SOS' berlumuran darah dan seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Willem mencoba mengingat kejadian-kejadian sebelumnya. Ingatan itu muncul satu per satu, terputus-putus dan dalam bentuk yang samar. Namun, kepalanya semakin sakit. Dokter mengatakan bahwa Willem mengalami gegar otak ringan dan oleh sebab itu Willem mengalami kehilangan beberapa ingatannya yang terbaru. 

Willem berusaha membujuk dokternya agar ia dapat keluar dari rumah sakit tanpa harus menunggu ingatannya kembali sepenuhnya dan menunggu polisi Paris untuk melaporkan kejadian yang tidak bisa diingatnya itu. Dokter mengijikan ia keluar. Willem mengingat beberapa hal dengan samar. Perempuan berambut hitam dengan potongan bob, yang pintar berbahasa mandarin dan menceritakan padanya tentang sebuah kata dalam bahasa mandarin yang artinya 'double happiness'. Tulisan itu ia temukan dalam buku tulis yang ada dalam backpack miliknya. Ia ingat kata itu dituliskan oleh perempuan berambut bob hitam di atas kapal, kemarin saat mereka berlayar di atas kanal mengelilingi kota Paris. Tapi ia tidak ingat sepenuhnya, wajahnya, bahkan nama aslinya. Yang Willem ingat hanya Lulu dan itu sangat tidak membantu.

Lalu Willem kembali ke negara asalnya, Belanda. Ia mencoba mencari sosok Lulu dengan berbagai cara. Berkali-kali menyadari bahwa ia tak mungkin bisa menemukan Lulu hanya dengan beberapa informasi terputus-putus yang tersisa di memorinya. Tapi ia juga tidak sanggup untuk tidak mencari Lulu, sebab Lulu mengubah banyak hal dalam dirinya, dalam hidupnya dan keluarganya. Willem berkelana mencari Lulu hingga ke Meksiko, tempat yang ia ingat pernah diceritakan oleh Lulu sebagai tempat liburan ia dan keluarganya selama tahun baru. Ia tak bisa menemukan Lulu di sana. Merasa kehilangan, Willem pun terbang ke India untuk bertemu dengan ibunya, kembali 'pulang' dan memperbaiki hubungannya dengan ibunya. Willem mengalami banyak hal selama di India. Dan sepulang dari India, ia juga mendapatkan teman baru dan perkerjaan baru sebagai pemain teater untuk drama karangan Shakespare. Segalanya berubah dalam setahun, namun tidak pada keinginannya untuk mencari Lulu. 

Original Title: 窓ぎわのトットちゃん (Totto-chan, The Little Girl at the Window)
Published: May, 15th 1996 by Kodansha (First published October, 1st 1982)

by 
Rating: 5/5

Having eyes, but not seeing beauty; having ears, but not hearing music; having minds, but not perceiving truth; having hearts that are never moved and therefore never set on fire. These are the things to fear, said the headmaster.



Novel Totto-chan menceritakan kisah masa kecil gadis cilik bernama Tetsuko Kuroyanagi (Totto-chan). Totto-chan adalah gadis kecil yang manis dan sangat aktif. Sama seperti anak-anak pada usianya, Totto-chan juga memiliki rasa penasaran yang amat besar. Ia senang mencoba segala sesuatu yang baru ditemuinya, mengungkapkan segala keunikan dari hal-hal yang dilihatnya dan seperti itulah anak-anak. 

Totto-chan sudah memasuki usia sekolah. Di sekolahnya, Totto-chan tidak mengalami banyak kesulitan. Hanya saja, rasa ingin tahu yang besar pada diri Totto-chan membuat semua guru dan teman-temannya di sekolahan menjadi terganggu dan kesal dengan ulahnya. Totto-chan yang masih sangat lugu merasa bahagia ketika mendapati meja yang lacinya dapat dibuka ke atas. Di rumahnya, semua meja memiliki lemari yang harus ditarik ke depan atau ke arah samping, tapi di sekolah itu, Totto-chan memiliki meja dengan laci yang berbeda. Selama jam pelajaran, ia terus menerus membuka dan menutup laci meja belajarnya. Membuka laci meja- mengambil buku - menutup laci meja - membuka lagi - mengambil penghapus - menutup lagi, dan begitu seterusnya. 

Tidak hanya itu, setelah bosan dengan meja barunya, Totto-chan juga memanggil pemusik jalanan yang lewat di sekitar pekarangan sekolahnya. Biasanya, pemusik jalanan tersebut selalu berhenti benyanyi ketika melewati area sekolahan. Namun, hari itu Totto-chan memanggil mereka untuk mendekat dan mengajak seluruh kawan di kelasnya untuk menyaksikan pemusik jalanan tersebut menyanyi dan guru yang sedang mengajar pun terpaksa bersabar lagi menyaksikan jam mengajarnya terganggu oleh Totto-chan.

Setelah pemusik jalanan selesai dan murid-murid lainnya kembali belajar, Totto-chan masih sibuk berdiri di depan jendela. Ia berteriak pada entah-siapa, kata gurunya. Ia terus menerus bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan?". Berulang-ulang, tanpa ada yang menjawab. Karena penasaran, sang guru mendekati jendela tempat Totto-chan berdiri dan berteriak pada entah-siapa itu. Ternyata ia sedang berbicara pada burung-burung yang sedang membuat sarang. Dan atas semua ulahnya itu, Totto-chan dikeluarkan dari sekolahnya.

Mama tidak memarahi Totto-chan karena ia telah dianggap nakal oleh gurunya dan dikeluarkan dari sekolahnya. Mama sangat memaklumi sifat anaknya itu. Lantas, Totto-chan dipindahkan ke sebuah sekolah bernama Tomoe Gakuen di kawasan Jiyugoaka. Sekolah unik dengan gerbang yang berdaun dan berakar, kelas-kelas berupa gerbong kereta api bekas, dan seorang kepala sekolah yang sangat luar biasa. 

Totto-chan sangat bahagia bersekolah di Tomoe Gakuen. Sekolahnya memang tidak besar, namun sangat asri dan unik. Ia juga memiliki banyak teman. Di Tomoe Gakuen, anak-anak dididik dengan cara yang berbeda oleh kepala sekolah, Mr. Kobayashi. Mereka dibiarkan berkembang dalam alam, belajar bersama alam dan membaur dalam alam. Mr. Kobayashi tidak ingin anak-anak didik di Tomoe berkembang sesuai dengan ekspektasi ataupun campur tangan orang dewasa. Anak-anak dibiarkan bebas memilih pelajaran apa yang mereka sukai untuk dipelajari, membiarkan anak-anak bebas berkreasi dengan imajinasi mereka masing-masing, namun tetap mengawasi dan memberikan bimbingan seperlunya. 

Di Tomoe, semua anak dapat mengembangkan minat dan bakat mereka sesuka hati. Anak yang menyukai musik dapat belajar irama dan musik di kelasnya, anak yang menyukai sains dapat pula belajar tentang ilmu sains dikelasnya. Semuanya diserahkan kepada anak-anak didik, mereka yang memilih dan menjalaninya. Mereka diajarkan bertanggung jawab atas segala yang mereka lakukan atau yang mereka pilih. Mereka juga dibiasakan untuk menjadi orang yang bijak, mampu mengalah dari ego mereka demi kebaikan banyak orang, menyayangi sesama manusia tanpa memandang siapa yang lebih dan siapa yang kurang dan mencintai alam serta lingkungan mereka. 

Mr. Kobayashi juga tidak pernah berkata kasar atau memarahi anak-anak didiknya. Ia memperlakukan anak-anak di Tomoe dengan sangat istimewa, tapi tidak memanjakan. Ia membekali anak-anak didiknya dengan kasih sayang layaknya seorang ayah, memberikan kesempatan untuk anak-anak agar bisa mengembangkan keberanian berbicara di depan umum, memastikan anak-anak didiknya mendapatkan gizi yang seimbang dengan asupan makanan yang disebutnya 'sesuatu dari pegunungan dan sesuatu dari laut', dan ia selalu berkata pada Totto-chan yang pernah dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap nakal bahwa, "Kau adalah anak yang benar-benar baik, Totto-chan." Dan dengan semua perlakuan itu, satu per satu anak didik di Tomoe Gakuen telah tumbuh dan kembang menjadi individu yang mandiri, pemberani, percaya diri, cerdas, dan istimewa. 
Penulis : Syahmedi Dean
Penerbit : Gramedia
Terbit : September 2014
Tebal : 224 hlm
Rating: 3.2/5




Pangeran Kertas bercerita tentang Nania, putri semata wayang dari artis terkenal ibu kota. Masalah keluarganya membuat Nania seperti tidak memiliki tempat bercerita, selain dua sahabatnya Lilu dan Deta. Ayahnya terlalu sibuk dengan jadwalnya sebagai artis papan atas dan ibunya yang memiliki emosi labil membuatnya tidak cukup nyaman untuk bercerita apa-apa pada perempuan itu. Nania pun lebih senang mengungkapkan seluruh isi hatinya ke dalam 'buku merah'. Buku merah adalah buku bersampul merah yang ia tuliskan berbait-bait puisi di dalamnya, curahan hatinya. 

Hampir seperti kebanyakan novel metropop lainnya, novel ini juga menceritakan peliknya kisah cinta segitiga antara Nania, Alvan, dan Raka. Alvan yang lebih dulu mengenal Nania, yang selalu ada untuk Nania, melindunginya, menyayanginya dan menerima Nania apa adanya. Dan Raka adalah lelaki yang Nania impikan, yang seperti ia bayangkan dan khayalkan dalam bait-bait puisinya. 

Namun, novel ini tidak seperti ekspektasi awal saya. Ketika membaca judulnya, saya pikir novel ini akan mengangkat kisah fantasi di mana tokoh Pangeran Kertas -Raka- itu hanya imajinasi atau sejenis manusia kasat mata -peri-. Atau, saya pikir Nania jatuh cinta dengan tokoh imajinasinya sendiri, tokoh Pengaran Kertas yang ia 'hidupkan' dalam bayangannya saja. Tapi ternyata diluar dugaan, Pangeran Kertas itu benar-benar ada dan memiliki kesamaan dengan tokoh Nania sendiri. Mereka sama-sama senang menulis puisi, memiliki buku merah, dan memiliki perasaan mendamba yang sama.

Kekecewaan saya hilang karena adanya poin plus-nya. Kisah cinta segitiga yang ditulis oleh Syahmedi Dean di novel ini membuat tebakan saya sejak awal jadi terbantahkan. Seperti biasa, di tengah-tengah novel saya suka menebak-nebak seperti apa endingnya. Siapkah kamu bermain tebak-tebakan? Menebak dengan siapa Nania akan berakhir, bagaimana Alvan atau Raka pada akhirnya? Jawaban dari pertanyaan itu akan membuat perasaan teraduk-aduk di akhir cerita. 

But, novel ini juga mengandung beberapa kutipan dan puisi yang indah. Bersiap-siaplah untuk jatuh cinta dengan bait-bait puisi yang ada di halaman-halaman novel Pangeran Kertas ini, guys!

Tak ada yang lebih cantik ketika bulu mata seorang wanita basah karena air wudu.


Salah satu puisi yang paling bisa membuatku tersenyum-senyum terpesona:

-Senyum-

Mari tanganmu
Biar kutuntun meninggalkan duka
Hatimu cuma bisa berdenyut
Sementara bola matamu sungguh memerlukan pandangan mataku
Coba lihat hujan
Tetes-tetesnya baik untuk kaki kita berdua
Coba lihat tanganmu
Simpan senyumku di situ
Erat-erat


Judul: Looking for Alaska
Penulis: John Green
Penerbit: Speak
Tebal: 221 halaman
Tahun Terbit: (Edisi) 2012
Rating: 4.5/5

The only way out of the labyrinth of suffering is to forgive. -John Green

Novel ini adalah kedua karangan John Green yang saya baca setelah The Fault in Our Stars. Novel Looking for Alaska mencerikana tentang kehidupan seorang remaja lelaki nerd bernama Miles (Pudge) yang suka sekali membaca buku biografi dan menghafal setiap kata terakhir yang dikatakan oleh tokoh tersebut sebelum tokoh itu meninggal dunia. 

Cerita seru Looking for Alaska ini berawal ketika Miles (Pudge) yang merasa tidak memiliki kehidupan yang menyenangkan seperti teman-temannya di Florida memilih untuk pindah ke salah satu boarding school bernama Culver Creek di Alabama. Di sekolah ini, Miles memiliki kawan sekamar bernama Chip (Colonel), lelaki bertubuh kecil dan energetic, yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda dengannya. Tidak hanya itu, Chip juga memperkenalkan Miles (Pudge) dengan teman-temannya yang lain. Ada Takumi, remaja lelaki asal Jepang yang juga seorang rapper. Lara, gadis asal Romania yang menyukai Miles sejak awal, dan yang paling bitchy, naughty, crazy, smart, and the gorgeous, Alaska Young. 

Miles (Pudge) mengalami banyak hal yang berbeda selama di Culver Creek. Pertemuannya dengan Chip, Takumi dan Alaska membuat hidupnya menjadi lebih berarti. Ketika bersama-sama, mereka bisa melakukan apa saja. Mereka bisa menjadi diri mereka sendiri, menjadi gila dan menjadi genius dalam waktu yang bersamaan. Mereka bermain bersama, belajar bersama, dan merencanakan prank bersama-sama. Dan di Culver Creek, Miles berhasil mendapatkan The Great Perhaps.

Secara keseluruhan, novel ini menceritakan tentang persahabatan mereka berlima. Namun, untuk kamu yang berharap kisah romantis, jangan terlalu kecewa dan jangan terlalu banyak berharap juga. Looking for Alaska juga memberikan efek-efek romantis dan cerita cinta yang membuat saya sendiri tidak tega menghabiskan buku ini terlalu cepat. Dan jelas, seperti novel TFIOS sebelumnya, Looking for Alaska sukses membuat emosi pembaca tercampur aduk. Setiap tokoh juga memiliki karakter dan sifat yang khas dan unik. Sekali lagi, John Green memang pandai menghidupkan tokoh-tokohnya. Kita seperti merasakan apa yang dirasakan di tokohnya, melihat apa yang dilihat tokohnya dan ikut terbawa dalam cerita, seolah-olah kita adalah si tokoh 'Aku' dalam ceritanya. 

Well, novel ini juga memiliki banyak kutipan-kutipan yang menarik. Ending cerita? Tidak akan seperti-yang-saya-atau-kalian-coba-bayangkan. Kalian akan dibawa berputar-putar dalam novel ini, ikut mencari kata kunci di setiap masalah yang ada, terbawa suasana gembira, menegangkan, haru dan tadaa! Novel Looking for Alaska: 4.5/5! 

At some point, you just pull off the Band-Aid, and it hurts, but then it's over and you're relieved.

You only get one life. It's actually your duty to live it as fully as possible.

Satu kutipan dari buku Me Before You di atas bisa mewakili hampir ke seluruhan isi cerita di dalamnya. 

Will Traynor, lelaki tampan, sukses dan kaya raya harus menerima kenyataan bahwa kecelakaan lalu lintas yang dialaminya mengubah seluruh jalan hidupnya. Will mengalami quadriplegia C5/6 (cidera tulang belakang) yang menyebabkannya mengalami kelumpuhan pada sebagian besar alat geraknya. Will tidak dapat menggunakan kedua kakinya lagi dan hanya memiliki sedikit kemampuan untuk menggerakkan tangannya atau jarinya. Tidak hanya kelumpuhan, berbagai penyakit dan infeksi juga sering menyerang tubuhnya. Dan Will tau, tidak akan ada kesembuhan untuk penyakitnya.

Di sisi lain Kastel Stortfold, Louisa Clark, gadis lincah yang nyentrik, hidup dalam keterbatasan materi. Ia diberhentikan dari The Buttered Bun karena sang pemilik kafe harus dengan sangat terpaksa kembali ke negara asalnya. Sementara itu, Katrina (adiknya Lou) berhenti melanjutkan kuliahnya dan menjadi penjaga toko bunga. Dan juga Dad yang terancam akan di-PHK dari pabrik tempatnya bekerja. Seluruh tanggung jawab keluarga berada di tangan Lou. 

Melihat semakin memburuknya keadaan di rumah, Lou mencari pekerjaan di Bursa Tenaga Kerja sehari setelah pemecatannya. Tidak ada pekerjaan yang lebih baik dari pada menjadi asisten perawat. Lou hanya memiliki kontrak kerja selama 6 bulan dan dijanjikan gaji yang sangat besar. Lou tidak pernah membayangkan dirinya menjadi asisten perawat. Namun, mengingat banyaknya kebutuhan akan biaya hidup keluarganya, Lou pun menerima pekerjaan itu.

Kehidupan Lou yang baru bermula di sini. 

Wawancara yang dilaluinya bersama Mrs. Traynor, Ibunya Will, membuat Lou tidak yakin akan pilihannya menerima pekerjaan sebagai asisten perawat di rumah mereka. Di satu sisi, pekerjaan ini tidak semenarik pekerjaannya di kafe yang dulu. Ditambah lagi dengan sikap Mrs. Traynor yang terlihat sangat tidak bersahabat. 

Awalnya, Lou merasa kurang nyaman bekerja pada keluarga Traynor. Kesan pertamanya terhadap Will tidak berjalan lancar. Will terlihat ketus dan sangat tertutup. Setiap kali Lou mencoba untuk berbicara dengannya, Will mengabaikannya. Seluruh waktu kerja yang di habiskan Lou mulai dari pukul 8 pagi hingga pukul 5 petang terasa seperti di neraka. Bukan hanya itu, Lou juga harus memastikan segala kebutuhan Will, menjaganya tetap aman dan terbebas dari masalah atau kekambuhan penyakit-penyakit dan infeksinya, serta harus mengetahui segala obat dan antibiotik yang diperlukan Will dalam keadaan darurat ketika perawat pribadinya sedang tidak berada di tempat.

Namun, semakin lama sifat ketus Will tidak menjadi masalah bagi Lou. Lou mencoba mengerti dan memahami apa yang dirasakan oleh Will. Lou bahkan banyak membaca cerita tentang penyakit yang diderita oleh orang-orang yang seperti Will. Ia bahkan bergabung dengan forum penderita quadriplegia melalui internet sekedar berbagi pengalaman dan meminta beberapa saran. 

Lou berhasil menjinakkan Will sedikit demi sedikit. Will mulai mengajaknya menonton film di ruang keluarga bersama-sama, duduk di taman, atau membaca novel yang dibelikan olehnya khusus untuk Lou. Sedikit demi sedikit pula, berbagai rahasia di antara mereka terbongkar. Lou semakin mengenal Will yang sebelum dan sesudah kecelakaan itu. Begitu pula Will yang mulai mengenali kehidupan sederhana seorang Lou, asisten perawatnya.

Hingga pada satu hari, Lou tidak sengaja mendengarkan percakapan tentang Will dari Mrs. Traynor dan Georgia, adik perempuan Will. Sebuah rahasia besar yang mengungkapkan segalanya. Sebuah rahasia yang juga menghancurkan segala usaha dan kerja keras yang dilakukan oleh Lou kepada Will dan keluarga itu.


WARNING: Jangan dimulai, atau jangan diteruskan membaca novel ini kalau kamu belum membaca sekuel pertamanya: If I Stay. Karena kamu akan nggak nyambung banget sama tokoh-tokoh yang muncul dan tragedi-tragedi yang memang bisa dibilang saling berhubungan dengan novel yang sebelumnya. So, pastikan kamu membacanya secara berurutan -If I Stay, Where She Went- supaya bisa mendapatkan pesan yang memang seharusnya kamu dapatkan!

Cerita ini berawal tiga tahun setelah kecelakaan Mia dan keluarganya. Tiga tahun pula sejak Mia dan Adam tidak lagi saling behubungan. Dalam tiga tahun, banyak hal yang berubah. Salah satunya takdir.

Ketenaran, kekayaan, hingar-bingar kehidupan sebagai penyanyi rock tampan yang terkenal sedunia menjadi takdir Adam Wilde. Berkat Mia juga. Putusnya hubungan Adam dan Mia yang berlangsung dengan cara yang tidak semestinya membuat hidup Adam berubah drastis. Mia menjauhi Adam setelah sembuh dari luka akibat kecelakaannya dan trauma yang dirasakannya. Mia juga menghilang, seiring dengan jadwal kuliahnya yang padat di Julliard. 

I get it now. I have to make good on my promise. To let her go. To really let her go. To let us both go.

Dan sejak hari itu, Adam vakum dari bandnya, kembali ke rumah orang tuanya, mengurung diri di kamar dan menjadi Adam yang berbeda. Akhirnya, luka patah hati membuat tangan Adam menuliskan banyak lagu baru. Adam kembali menemui anggota band-nya dengan beberapa lagu yang siap dijadikan album dan akhirnya masuk dapur rekaman, tour di beberapa kota, dan setelah itu karier Adam serta band-nya meroket seketika. 

Setelah terkenal dan memiliki banyak penggemar, hidup Adam tidak menjadi lebih baik. Ia memiliki sindrom panik. Dan tebak apa yang terjadi setelah Adam menjadi terkenal? Adam dipertemukan lagi dengan Mia Hall, setelah tiga tahun lamanya. 

New York, selama 24 jam, pertemuan canggung dengan wanita yang 'pernah' sangat mencintainya. Mia berubah, begitu pula Adam. Pertemuan itu juga membuat mereka bertualang di New York. Hingga di akhir pertemuan mereka, semua pertanyaan yang selama tiga tahun mengendap di dasar hati Adam mulai menguap satu per satu ke udara. Dan satu per satu pula pertanyaan itu terjawab hingga tak ada lagi yang ingin dan yang butuh mereka jelaskan satu sama lain.

You talked to me, but you didn’t. I could see you having these two-sided conversations. The things you wanted to say to me. And the words that actually came out.

Masih seperti If I Stay, novel ini menggunakan narator tunggal atau dengan kata lain novel ini versi kehidupannya Adam. Dan masih seperti novel sebelumnya, Where She Went memiliki kekuatan yang sama dan membuatku membayangkan semua yang ada di dalamnya secara realistis. Tokoh Adam dan Mia terasa benar-benar sederhana namun nyata. Gaya bahasa yang digunakan juga ringan dan mengalir. Dan jelas, tanpa ada satu bagian pun yang terasa hiperbolis di dalamnya. 

There are so many things that demand to be said. Where did you go? Do you ever think about me? You've ruined me. Are you okay? But of course, I can't say any of that.

Where She Went juga memiliki perbedaan dari novel sebelumnya. Dibandingkan dengan novel If I Stay yang lebih banyak menggunakan alur flashback, novel ini lebih banyak menceritakan alur majunya. Namun, kalau sebelumnya kita membaca kisah cinta Adam dan Mia di novel If I Stay tanpa melanjutkan ke novel Where She Went, kita tidak akan pernah menebak bagaimana perasaan Adam yang sesungguhnya pada Mia. Novel ini mempertegas kenyataan bahwa cinta Adam dan Mia bukan cerita cinta-romansa-SMA. Entahlah, tapi aku membayangkan bagaimana rasanya jika aku memiliki Adam Wilde dikehidupanku yang nyata. Adam memiliki cinta yang tidak berkarat, karena ia mencintai tanpa bersyarat.

...and yes, it was a high school romance, but it was still the kind of romance where I thought we were trying to find a way to make it forever...

Menurutku kekurangan novel ini terletak pada musiknya. Di dalam If I Stay pernah dijelaskan bahwa yang mempersatukan Adam dan Mia adalah musik. Namun di novel ini, musik tidak terasa se-bernyawa-nya di novel If I Stay. Di novel If I Stay, jelas terlihat bagaimana musik seperti cupid yang mendekatkan Adam dan Mia, menyatukan mereka dan juga memisahkan mereka. Tapi di novel ini, kekuatan musik Adam tidak terlalu menonjol. Tapi ini salah satu lirik lagu Collateral Damage yang paling aku suka. 

"First you inspect me
Then you dissect me
Then you reject me
I wait for the day
That you'll resurrect me"
-Animate-

Somehow, If I Stay dan Where She Went tetap menjadi novel kesukaanku. Yang jelas, keduanya bukan sembarang novel romance yang menjelaskan seluk-beluk percintaan cengeng dan membosankan. Banyak pesan yang melekat -harusnya-. Karena setelah membaca buku ini, aku menyimpulkan bahwa novel ini bukan hanya memperlihatkan bagaimana cinta itu harusnya 'diperlakukan', tapi juga memberikan kita gambaran tentang bagaimana pentingnya menghargai sebuah 'kehadiran' dan betapa 'hinanya' perasaan 'kehilangan'.

In the calculus of feelings, you never really know how one person's absence will affect you more than another's.



Judul: Where She Went
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2011
Tebal: 240 hl




Judul Buku: Just One Day
Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chufsani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2013
Tebal: 400 halaman
Rating: 4.1/5

Buku ketiga karangan Gayle Forman yang berhasil ku'adopsi'. Gayle Forman adalah penulis If I Stay dan Where She Went yang bukunya sudah jadi International Best Seller dan di-film-kan. Dan kamu harusnya sudah bisa bayangkan sendiri seperti apa buku ini. 

Just One Day mengambil sudut pandang tokoh utama wanitanya, Allyson Healey. Sebagai gambaran awal, Allyson ini adalah anak tunggal. Well, -seperti kebanyakan- anak tunggal, Mom akan menjadi orang yang super-over-protective. Segala sesuatu dalam hidup Allyson dijadwalkan, diatur, ditata, dan dirancang oleh Mom. Bahkan untuk cita-citanya, Allyson pun harus menuruti keinginan Mom. Istilah kasarnya, Allyson 'dicetak' sesuai dengan keinginan Mom. 

Tapi semua itu berputar berlawanan arah sejak pertemuan tak sengaja yang terjadi saat Allyson sedang tour keliling Eropa. Allyson dan Melanie, sahabatnya, mendapat tiket tour keliling Eropa dari orang tua mereka sebagai hadiah kelulusan SMA. Dan tiba di negara terakhir dari tour mereka, London, Allyson dan Melanie bertemu dengan seorang lelaki tampan yang membagikan brosur street performance. Dengan sedikit keberanian dan rasa penasaran dengan lelaki-tampan-pembagi-borsur tadi, Allyson dan Melanie terpaksa menipu tour guide mereka. Hasil dari menipu itu adalah, mereka -Allyson dan Melanie- tidak jadi menonton Hamlet di teater bersama anak-anak lainnya, tapi malah menelusuri London di malam hari dan menonton pertunjukan teater jalanan. 

Allyson terpesona dan tersentuh dengan pertunjukan Twelfth Night -karya Shakespare- yang dipertunjukkan oleh Gerillya Will, kelompok teater jalanan. Terlebih lagi pada pemeran Sebastian, lelaki-tampan-pembagi-brosur itu. Allyson benar-benar menikmati pertunjukan -teater dan 'Sebastian'. Di akhir pertunjukan, 'Sebastian' melemparkan sebuah koin kuno ke pada Allyson dan disambut dengan baik olehnya. 

Paginya, sebelum kembali pulang ke Amerika, Allyson bertemu lagi dengan Willem (pemeran Sebastian di teater jalanan) di stasiun kereta. Sebastian aka Willem, memberinya nama Lulu yang diambil dari nama aktris Louise Brooks -yang mempopulerkan model rambut bob-, karena Allyson juga memiliki gaya rambut yang sama. Dan menjelang perpisahan mereka -Allyson akan kembali ke Amerika dan Willem kembali ke Belanda-, Willem mengajak Allyson untuk bertualang ke Paris. Allyson sangat menginginkannya, karena semestinya tour keliling Eropa ini memang membawanya ke Paris, namun karena sesuatu hal, akhirnya rombongan tour tidak jadi ke Paris. 

Allyson sudah menjadi Lulu. Dan Lulu berbeda dengan Allyson. Lulu bukan gadis penurut dan penuh aturan. Lulu bukan Allyson yang hidup dalam kamar tanpa pintu atau jendela. Lulu gadis petualang yang bebas, berani, dan bisa berkata 'ya'. Berkat siapa? Berkat Willem! Willem memperkenalkan pada Lulu -Allyson- banyak hal selama perjalanan mereka ke Paris. Mulai dari karya-karya Shakespare, kanal-kanal di negara Belanda, sampai mengajarkan pada Lulu perbedaan antara being in love dan falling in love

Perjalanan di Paris selama setengah hari bersama Willem benar-benar membuat Lulu merasa perjalanan tour di negara-negara sebelumnya bersama rombongan tour tidak ada apa-apanya. Perjalanan yang hanya akan berlangsung selama satu hari bersama Willem benar-benar telah mengukir banyak kenangan di memori dan hati Lulu. 'Kecelakaan' demi 'kecelakaan' mereka lewati bersama. Dan untuk pertama kalinya, Allyson yang telah berubah menjadi Lulu Si Pemberani merasakan arti hidup, kebebasan, dan perasaan bahagia yang sesungguhnya bersama Willem, orang asing yang baru ditemuinya kemarin. Allyson bisa berkata jujur, terbuka dan 'apa-adanya' di hadapan Willem. Allyson's Willem just reminds me of my 'Willem'.

Dan seperti janji Willem di hari sebelumnya, perjalanan mereka di Paris hanya satu hari. Tepat setelah matahari muncul dari timur kota Paris, Willem telah pergi. Lulu kembali menjadi Allyson. Allyson yang penakut, teratur, dan mulai kehilangan arah. Allyson ditinggalkan dalam kedaan miskin -tidak punya sepeser euro lagi-. Dan dengan bantuan Ms. Foley, tour guide perjalanan keliling Eropa kemarin, Lulu aka Allyson bisa kembali ke Amerika dengan selamat. 

Tidak sampai di situ. Perjalanan Allyson dalam Just One Day masih berlanjut. Aku nggak akan spoiler. Kamu harus cari tau sendiri, karena banyak hal yang bakal membuatmu tercengang dan berpikir sama sepertiku bahwa 'nggak ada yang namanya kebetulan.' Seperti kata Napoleon Bonaparte -yang juga kupercayai-, "There is no such thing as accident; it is fate misnamed." Segala kejadian yang terjadi dalam hidup sebenarnya adalah jalan yang sudah 'ditentukan' arahnya, hanya saja kita menjumpai 'jalan' tersebut dengan persepsi dan dalam keadaan yang tidak terduga atau kadang-kadan terasa sangat 'ajaib'.

Jangan puas sampai di sini karena Just One Day punya sekuel dengan judul Just One Year. So, siap-siap dibawa tour keliling London, Paris dan Belanda oleh Gayle Forman. Gayle benar-benar pintar membuat kita merasa sedang berjalan-jalan melintasi kebun tulip, melihat kincir angin, lalu makan macaron warna-warni, atau berjalan di tepi sungai Seine, dan menjelajahi gang-gang kecil berudara uap kopi di kota Paris. 

Seperti biasa, kupilihkan beberapa quotes yang kusuka dan mungkin bisa membuatmu semakin ingin membaca buku ini:

We are born in one day. We die in one day. We can change in one day. And we can fall in love in one day. Anything can happen in just one day. -Allyson

You have to fall in love to be in love, but falling in love isn't the same as being in love. -Willem

And that's when I understand that I have been stained. Whether I'm still in love with him, whether he was ever in love with me, and no matter who he's in love with now, Willem changed my life. He showed me how to get lost, and then I showed myself how to get found. -Allyson

 "Goeiemorgen," katanya, dengan suara masih kental oleh kantuk. --- "Kurasa itu artinya selamat pagi, meski sebenarnya sekarang masih sore." --- "Kau lupa, waktu tidak berlaku lagi. Kau memberikannya padaku."
"Aku akan jadi gadis gunungmu dan akan merawatmu." --- "Dan sebagai balasannya, aku akan membebaskanmu dari kungkungan waktu." Dia menyelipkan arlojiku dalam pergelangan tangannya, tempat benda itu tidak kelihatan seperti borgol.


Just One Day by Gayle Forman photo Just-One-Day_510x765.jpg




... yang terpenting adalah mengetahui bahwa cinta ini bisa kuberikan, tanpa tuntutan atau harapan. -John

Well, baru beberapa jam yang lalu novel ini selesai kulahap. Kesan setelah itu, "mungkin beberapa bulan lagi aku akan baca ulang, lagi, lagi dan lagi." Tidak bermaksud hiperbolis, tapi nyata kalau novel ini benar-benar karya Nicholas Sparks yang bikin pembacanya -atau mungkin aku, tapi kuyakin semua orang yang gila novel romance- menangis dan tertawa dalam waktu yang bersamaan. Jujur, ada beberapa bagian yang buat mataku kabur, lebih tepatnya sama air mata. 

John Tyree, 23 tahun. Pemuda dari pesisir pantai Wilmington, North Carolina, yang dengan cara Tuhan menemukan cinta sejatinya, bisa dikatakan seperti itu. John tinggal bersama ayahnya yang menggilai koin-koin kuno, kaku, pendiam, pemalu dan juga kurang bisa bersosialisasi dengan lingkungannya. Sejak kecil, John tidak pernah mengenali siapa ibunya. Dan ia tidak pernah meminta ayahnya untuk menceritakan tentang itu, dan baginya ia tidak butuh tahu. 

Terlepas dari semua itu, sebagai anak remaja yang sedang dalam masa-masa mencari jati dirinya, John tumbuh menjadi pemuda yang 'berantakan'. Maksudku, dia tidak benar-benar belajar selama di kelasnya, dia tidak memiliki teman-teman yang sesuai. John bahkan tidak yakin ia diluluskan dari SMA-nya karena benar-benar bisa lulus atau karena pihak sekolah tidak ingin menangani murid nakal sepertinya lagi. Dan di luar semua itu, ayah John tidak pernah marah atau menuntut lebih darinya.

Beberapa tahun setelah tamat SMA, John berpindah-pindah pekerjaan paruh waktu, menghabiskan hari-harinya di bar bersama teman senasib -tidak punya masa depan cerah-, berselancar, dan pulang ketika ingin pulang. Hingga tiba waktunya di mana John merasa bahwa yang ia lakukan tidak cukup benar. John ingin lebih dari itu. Ia ingin seperti teman-temannya yang sukses, memiliki barang-barang mahal, dan kehidupan yang lebih baik. John dan ayahnya memang tidak mengalami kekurangan dalam biaya hidup sehari-hari. Hanya saja kehidupan yang terlalu monoton bersama ayahnya membuat semua kesederhanaan hidup tidak menjadi cukup.

Ia juga muak dengan permbahasan ayahnya tentang koin-koin itu. Di sinilah masalahnya. Ayah John tidak bisa berbicara atau tidak punya topik lain yang ingin dibahasnya kecuali tentang koin dan koin. Hingga tiba di mana John bosan dan memutuskan untuk mendaftar menjadi tentara angkatan laut -setidaknya dia punya kegiatan lain selain duduk di rumah dan mendengarkan ayahnya bicara tentang koin-. 

Namun takdir berbelok lagi. Penjaga pendaftaran di kantor militer angkatan laut saat itu sedang beristirahat makan siang, akhirnya John memutuskan untuk mendaftar di militer angkatan darat yang kantornya hanya berseberangan jalan. John tidak mempermasalahkan itu. Walaupun ia menginginkan angkatan laut, tapi baginya, di manapun itu -angkatan darat atau laut-, keduanya sama-sama menggunakan senjata untuk melumpuhkan musuh.

Lalu, cuti pertamanya setelah resmi menjadi anggota militer, John kembali ke rumah ayahnya. Dan setelah mengikuti pelatihan militer, John merasa telah ada yang berubah dalam dirinya. Ia menjadi lebih dewasa dibandingkan sebelumnya. Setidaknya, selama di kamp pelatihan militer, John benar-benar menjadi pelajar yang baik dan tidak pernah membuat masalah. 

Sementara itu, di pesisir pantai Wilmington, dua hati dipertemukan Tuhan. Tanpa sengaja, John bertemu dengan mahasiswa yang -kebetulan- sedang mengadakan semacam bakti sosial -membangun rumah untuk penduduk kurang mampu- di daerah pesisir tempat John sering berselancar. Hanya dengan permulaan kata 'hai' dan kecelakaan kecil, John dan Savannah bertemu. Ketika tatapan mata John bertemu dengan mata Savannah, segalanya terasa nyata. Entah cinta pada pandangan pertama atau memang ada jalan -takdir- yang membuat mereka merasakan bahwa, 'Ah, ya! Aku sudah berjodoh dengan orang ini.' 

Baiklah, terdengar berlebihan sementara ini hanya cerita dari dalam novel fiktif. Tapi maksudku adalah, bagaimana Sparks mampu mengungkapkan kejadian-kejadian yang sederhana di antara John dan Savannah menjadi lebih dan selalu manis untuk dikenang. Belum lagi caranya - Sparks- mengungkapkan tiap detil setting dalam buku ini. Ia mampu mengungkapkan ombak laut dari kumpulan kata-kata 'pasif' menjadi sangat nyata. Rasanya seperti benar-benar sedang berada di bibir pantai, melihat rumah pantai, berselancar di tengah ombak dan lain sebagainya. Singkatnya, menurutku Sparks ahli dalam urusan membuat kita berkhayal seperti ingin dia gambarkan. 

Konflik pertama antara John, Savannah dan Ayahnya John memang terbilang tidak terlalu rumit, menurutku. Namun, solusi dari konflik malah membuat tokoh-tokoh di dalamnya menjadi lebih 'dekat'. Sementara konflik antara John dan Savannah yang dimulai ketika John harus kembali ke Jerman -semacam misi perdamaian-, mulai terasa rumit. Melihat bagaimana John dan Savannah berjuang mempertahankan hubungan yang mereka bina hanya lewat surat dan telepon yang terbilang jarang. Menyesakkan, tapi manis. 

Baiklah, aku tidak akan spoiler tentang kejadian-kejadian penting yang memang harusnya kalian baca sendiri. Yang jelas, kalau kalian termasuk penggila bacaan romance, Dear John adalah buku romance dengan kisah cinta dua anak desa yang berkelas -tidak kampungan dengan segala remeh-temeh membosankan-. Nah, perlu diingat juga, dalam buku ini, Sparks tidak hanya mengungkapkan betapa luar biasanya kekuatan dan ketulusan cinta dua insan berbeda jenis kelamin, tapi juga bagaimana indahnya hubungan ayah-anak (keluarga) dan juga hubungan manusia dengan alam. Ditambah lagi dengan beberapa pengetahuan dari segi psikologi -yang membahas sindrom Asperger, yang kata Savannah diderita oleh ayah John-, beberapa sentuhan ilmu kedokteran dan percakapan-percakapan yang mengungkapkan betapa pentingnya hubungan sosial sesama manusia.

Dan, ya! Aku cinta John, juga Savannah. Menyerupai cintaku pada Adam di novel If I Stay. Mereka adalah laki-laki sejati -setidaknya dalam berlembar-lembar halaman novel-. Aku menyukai John yang bersikap dewasa menghadapi Savannah. Menyukai John yang menghormati dan menghargai Savannah sebagai wanita religius dan gadis baik-baik. Well, John tidak sembarangan 'menyentuh' Savannah, sekalipun entah berapa ratusan atau ribuan kali ia ingin melakukannya. Dan John sama sekali tidak mempermasalahkan setiap kekurangan yang dimiliki Savannah. Dia benar-benar mencintai dengan gila, atau dengan tulus, atau lebih dari itu -sekali lagi, setidaknya dalam novel ini-.

Dan Savannah, aku menyukai beberapa prinsipnya. Sedikit banyak, Savannah dan aku -baikalah, lupakan kata 'aku'-, mirip. Jangan bayangkan bahwa aku secantik Savannah yang digambarkan Sparks dalam novelnya. Aku suka sifatnya yang 'liar'. Maksudku, dia sangat dekat dengan alam. Aku suka -seperti halnya Savannah menyukai- pegunungan, aku suka melihat Savannah menyukai kuda-kuda perliharannya, aku suka sifat religiusnya, aku suka kepatuhan Savannah pada kedua orang tuanya, aku suka cara Savannah mencintai John tanpa mempermasalahkan masa lalu John yang berantakan dan segala kekurangan di dalam diri John, dan aku suka bagaimana Savannah menjaga kehormatannya sebagai gadis baik-baik, dengan keteguhannya, moral-moral dan sentuhan religiusnya. Yang paling penting, ia tidak sembarangan memberikan 'segalanya' untuk 'siapapun'. Benar-benar terdengar religius, juga kuno, tapi memperingatkan kaum hawa; bahwa perempuan itu bukan barang murahan yang bisa 'dipakai' dan 'disentuh' semaunya oleh sembarangngan orang. Dan, ya! Sekali lagi ini hanya novel. Jangan terlalu serius pada hal-hal yang mungkin bertentangan dengan cara pikirmu. Nikmati, pahami, dan cukup untuk hiburan bagi diri sendiri.

Sebenarnya masih banyak yang ingin kubahas. Tapi rasanya aku akan sanggup membongkar sampai detil-detil yang harusnya kalian baca sendiri. Over all, aku mulai menyukai tulisan Nicholas Sparks. Mungkin harus melakukan pemburuan lebih lanjut terhadap buku-buku karangannya. By the way, aku bisa sangat beruntung mendapatkan Dear John ini sebagai -bisa dikatakan hadiah- dari seorang kakak yang sangat baik hati bernama Seiska. LOL -Lots of Love-

Baiklah! Seperti biasa, mungkin beberapa quotes akan menambahkan kesan 'rating 4' untuk novel ini. 

I finally understood what true love meant...love meant that you care for another person's happiness more than your own, no matter how painful the choices you face might be. -John

I love you, not just for now, but for always, and I dream of the day that you’ll take me in your arms again.

If you come back; I'll marry you. If you break your promise, you'll break my heart. -Savannah

Dear John, tell me everything. Write it all down, that way, we’ll be with each other all the time, even if we’re not with each other at all. -Savannah

There are memories for both of us, of course, but I've learned that memories can have a physical, almost living presence, and in this, Savannah and I are different as well.If hers are stars in the nighttime sky, mine are the haunted empty spaces in beetween. -John



Judul: If I Stay
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Januari, 2012 (cetakan keempat)
Tebal: 200 halaman
Rate: 4.5/5



Apa yang akan kita bayangkan ketika membaca sebuah kata 'bahagia'? Sama sepertiku, kurasa tokoh Mia Hall dalam novel ini memiliki pikiran yang sama. Ya, bahagia tidak lebih dari memiliki keluarga yang sederhana dan harmonis, memiliki masa depan yang cemerlang, dan seorang kekasih yang bisa dikatakan setengah-suami. Maksudku, kekasih yang sebenarnya, bukan kekasih selama semalam, sehari, seminggu atau satu tahun saja.

Mia Hall memiliki segalanya yang disebut 'bahagia' itu. Namun tidak pernah ada yang tahu takdir Tuhan. Semuanya hilang seperti dalam kejapan mata. Semuanya berakhir, di jalanan lembap yang masih menyisakan salju cair. Mia dan keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju rumah teman Dad dan Mom -Henry dan Willow- mengalami kecelakaan.

Truk pickup bermuatan empat ton dengan kecepatan sekitar seratus kilometer per jam menghantam sisi penumpang -mobil Dad-. Pintu-pintu terlepas, bangku bagian depan terlepas dan terlempar melalui kaca depan pengemudi. Ban-ban mobil terlempar jauh hingga ke dalam hutan. Singkatnya, kecelakaan itu terjadi sedemikian rupa. Sesingkat dan semudah mengoyak jaring laba-laba. 

Setelah benturan yang menyebabkan suara senyaring letusan bom itu berakhir, segalanya mendadak hening, kecuali Cello Sonata no.3 Bethoven -yang anehnya masih dapat mengalun pada radio mobil yang masih tersambung dengan aki mobil-.

Kala itu, Mia terbangun, mendengarkan adanya alunan musik yang bersuara di antara hening puing mobil -yang bentuknya sudah lebih menyerupai kerangka mobil-. Mia tertatih, mencoba merangkak dari dalam parit, tempat ia terlempar jauh dari mobilnya, dan mendapati kedua orang tuanya dalam keadaan mengerikan. Keduanya meninggal di tempat. Harapan Mia hanya tinggal pada adiknya, Teddy. Tapi yang ia temukan bukan tubuh Teddy, melainkan tubuhnya sendiri, terbaring kaku penuh darah dan luka di dalam parit -tempat ia merangkak sebelumnya-. 

Perjalanan Mia dalam bentuk kasatmata atau jiwa-yang-berpisah-dari-raga dalam buku ini benar-benar terbilang unik namun terasa amat nyata. Entah bagaimana, aku bisa merasakan semua detil yang disampaikan penulis dalam hidupnya Mia. Rasanya aku benar-benar tenggelam dalam jiwa Mia yang berkeliaran di rumah sakit, 24 jam setelah kejadian. Mia yang menyaksikan seluruh keluarganya meninggal seketika, menyaksikan keluarganya yang lain; Gran dan Gramps, bibi-paman, dan para sepupu, serta sahabatnya Kim dan Adam Wilde, kekasih setengah-suaminya itu, datang untuk memberikan dukungan padanya. Mia menyaksikan semua kejadian itu tanpa benar-benar bisa merasakannya. Entah bagaimana harus mengungkapkan bagian perasaan Mia, tapi bayangkan saja ketika kita dalam keadaan bermimpi, lalu melihat sesuatu yang tidak menyenangkan di dalam mimpi kita, kita ingin menghentikan segalanya, menyentuh sesuatu yang mungkin bisa menghentikan atau membuat mimpi itu lenyap seketika, atau mengucapkan kata-kata atau apapun untuk menghentikan kejadian yang sangat menyesakkan dada itu, tapi tidak bisa. Begitulah kurang lebih yang dirasakan Mia. 

Dan Mia terkatung-katung antara hidup dan matinya, ketidakpastian akan masa depannya, jika ia bangun dari komanya. Mia tak bisa membayangkan hidup tanpa Mom, Dad, dan Teddy, si adik kecil yang sangat disayanginya. Mia tak punya keberanian untuk menghadapi masa depan tanpa keluarganya. Mia terus merenungi masa depannya setelah kecelakaan itu dalam wujudnya yang masih berpisah antara raga dan jiwanya, antara nyata dan tidaknya. Mia mengenang masa-masa kecilnya, kehidupannya bersama keluarganya, hari ketika Teddy dilahirkan, pertemuan pertama dengan Adam, kisah cintanya -yang menurutku tidak sesuai jika dikatakan sebagai 'cinta monyet' untuk ukuran anak SMA- dan hal-hal lain yang membuatnya semakin bingung untuk bertahan atau menyudahi segala keganjilan dan ketidakpastian yang dirasakannya. 

Namun banyak hal yang membuat Mia ingin memilih untuk bertahan. Ketika Gramps mendatanginya, lalu berbisik,


"Tidak apa-apa," katanya. "Kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apapun yang kuinginkan di dunia ini." Suaranya tersekat emosi. Dia berhenti, berdeham, menarik napas, dan melanjutkan. "Tapi itu kemauanku dan aku bisa mengerti mungkin itu bukan kemauanmu. Maka aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang." -Hal. 151
Juga saat, Kim, sahabat karib yang sering dipanggil kembarannya mengecup keningnya dan berbisik,
"Kau masih punya keluarga." -Hal 184
Dan satu lagi bagian di mana Mia mengalami flashback -yang membuatku tersenyum dengan cengiran penuh iri-. Bagian di mana Adam, sang kekasih setengah-suami, mengumpulkan tip mengantar pizza selama dua minggu hanya untuk membelikan tiket konser Yo Yo Ma. Adam membelikan tiket itu untuk melihat Mia terhanyut dalam permainan cello sang master. Adam menyukai itu, saat-saat Mia larut dalam permainan cello yang mereka dengarkan bersama. Jelas saja, Adam si lelaki punk dalam novel ini membuatku berpikir ulang bahwa, "Ada saatnya, di mana laki-laki menjadi lelaki sesungguhnya. Kelak, ketika ia benar-benar menemukan 'the one, and only'-nya." Dan, Adam menemukan Mia, Mia ditemukan Adam. 

Tanpa ada satu bagian pun yang terasa hiperbolis dalam novel ini. Semuanya terasa amat sederhana, namun manis. Terasa nyata, tapi juga mistis. Entahlah, mungkin karena aku sudah terlalu menyukai Gayle Forman, atau terlalu larut dalam kisah cinta Adam-Mia. Tapi yang jelas, buku ini tidak hanya meninggalkan senyum atau air mata haru di akhir halamannya. Buku ini seperti ingin mengatakan, lewat kisah cinta Mia-Adam dan harmonisasi keluarga Mia, bahwa hidup tidak selamanya bahagia dengan banyaknya kekayaan yang mampu kita hasilkan sampai cukup hingga sepuluh turunan. Tapi bahagia bisa datang dengan hal-hal kecil yang kadang kita miliki namun juga kita lupakan, seperti arti kehidupan itu sendiri, keluarga, saudara, dan sahabat.

Syukurlah aku menemukan penulis seperti Gayle Forman (buku karangannya). Ia seperti berbiacara pada pembacanya. Dan novel If I Stay memiliki sekuel dengan judul Where She Went, versi Adam yang menjalani hidup bersama Mia. 

Ini beberapa quotes (diambil dari akun goodreads, versi asli -bukan terjemahan-) yang membuatku semakin menyukai semua tokoh dalam novel If I Stay. 

Sometimes you make choices in life and sometimes choices make you. -Dad

If you stay, I'll do whatever you want. I'll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I'll do that, too. I was talking to Liz and she said maybe coming back to your old life would be too painful, that maybe it'd be easier for you to erase us. And that would suck, but I'd do it. I can lose you like that if I don't lose you today. I'll let you go. If you stay. -Adam Wilde

Please Mia," he implores. "Don't make me write a song. -Adam Wilde

Girlfriend is such a stupid word. I couldn't stand calling her that. So, we had to get married, so I could call her 'wife. - Dad

This is the you I like. You definitely dressed sexier and are, you know, blond, and that's different. But the you who are tonight is the same you I was in love with yesterday, the same you I'll be in love with tomorrow. I love that you're fragile and tough, quiet and kick-ass.  - Adam

All relationships are tough. Just like with music, sometimes you have harmony and other times you have cacophony. I don't have to tell you that.” -Mom






Dari jutaan bunga di dunia, tak ada yang seperti bunga labu. Bunga labu merekah hanya ketika semua orang telah tertidur. Menghias dirinya dengan warna putih yang diciptakan debu bulan, bunga labu dengan penuh hasrat menantikan kekasihnya sepanjang malam. (Hal.75)


Novel grafis karya Kim Dong Hwa ini adalah satu-satunya novel grafis atau lebih tepatnya novel grafis (bergambar) yang pertama kali kubaca setelah sekian tahun membaca banyak novel. Berawal dari ketidaksengajaan memesan buku ini via-online, dan hanya melihat sampul serta resensi yang berupa narasi singkat tentang isi ceritanya. Kupikir karena ada beberapa kutipan yang puitis dalam resensi tersebut, novel ini pasti sejenis novel klasik dengan puisi-puisi indah di dalamnya. Ternyata setelah dipesan (dibeli), isinya sedikit melenceng dari perkiraan. 

Halamannya penuh gambar, seperti komik atau memang komik, tapi dengan dialog antar tokoh dan narasi singkat yang lebih tepatnya diperuntukkan untuk pembaca usia belia hingga dewasa menengah. Bahasanya yang puitis dengan sentuhan budaya klasik Korea membuat novel grafis ini menjadi sangat menyenangkan dan membuatku tidak tega meninggalkannya dan ingin melahapnya dalam sekali duduk. 

Novel ini berkisah tentang dunia dan kehidupan dari sudut pandang wanita yang berbeda usia. Ehwa, gadis kecil yang tinggal bersama ibunya di sebuah desa bernama Namwon. Ibu Ehwa adalah seorang janda yang memiliki kedai minum kecil-kecilan. Pengunjung kedainya adalah laki-laki yang kebanyakan bersikap tidak sopan dan sering mengoda ibunya Ehwa. Ehwa kecil terkadang merasa sedih dan kesal saat ibunya dikata-katai atau diperlakukan secara tidak sopan oleh pelanggan kedai minum mereka. Ehwa pun menyampaikan kekesalannya pada sang ibu. Tapi ibu Ehwa malah bersikap sebaliknya. Walaupun ia merasa kesal, ia tetap berusaha menjelaskan pada Ehwa bahwa ia harus melayani pelanggan kedai minumnya dengan baik.

Aku suka sekali pada bagian yang menceritakan saat Ehwa bertemu dengan cinta pertamanya, seorang biksu muda. Pertemuan yang tidak disengaja itu terjadi di atas jembatan yang hanya bisa dilalui oleh satu orang dan dikelilingi oleh bunga tiger lily. Sejak hari itu, Ehwa selalu menyukai bunga tiger lily yang mengingatkannya pada cinta pertamanya. Salah satu hal yang membuat Ehwa, aku pun demikian, menyukai si biksu muda itu adalah kata-katanya yang, 

Meskipun tumbuh di seantero pegunungan, bunga ini indah, persis dirimu. Tiger lily adalah satu-satunya bunga yang dengan senang hati menghadap ke matahari dan mekar meskipun tidak ada siapa-siapa di dekatnya untuk menyaksikan. (Hal. 111)

Bayangkan, hati wanita mana yang tidak tersipu malu saat dikatakan demikian? Haha... Kemudian dipaparkan pula tentang kerinduan Ehwa pada si biksu yang sedang mengembara. Ehwa menunggu di atas jembatan pertama mereka bertemu, dengan bunga-bunga tiger lily di dekatnya. Lalu Ehwa melihat kupu-kupu mulai mendekati bunga-bunga disekitarnya,

Apakah kalian (kupu-kupu) tertarik pada bunga lili karena aromanya bagaikan pakaian kelabu si biksu muda? Hati kalian pasti pedih karena tidak dapat melihat orang yang kalian rindukan, sama seperti aku.

Kemudian pada bab 6 dikisahkan tentang Ehwa yang semakin hari semakin tumbuh menjadi gadis belia dan mendapati banyak perubahan dalam dirinya. Perubahan dari segi sikap dan tubuhnya yang semakin hari semakin "bermetamorfosis" menjadi gadis yang cantik dan utuh. Ada hal yang menggelitik saat membaca bagian di mana Ehwa mendapatkan haid-nya untuk pertama kali. Ehwa ketakutan dan mengira dirinya akan segera mati karena terjadi perdarahan secara mendadak seperti itu. Tapi setelah dijelaskan oleh ibunya bahwa ia sedang menjalani proses menjadi dewasa, Ehwa merasa senang. Tergambar pada satu halaman penuh di mana tidak ada percakapan, hanya ada beberapa gambaran wajah Ehwa yang merona, tersenyum dan menyengir bahagia.

Di hari yang sama, Ehwa bertemu dengan Sunoo, seorang putra petani buah yang bersekolah di Provinsi Kwangju. Wajahnya yang tampan dan sifatnya yang baik membuat Ehwa tertarik dan mulai menyukainya. Lalu sejak hari itu, Ehwa merasa gundah. Ia menyukai dua laki-laki yang sama-sama baik, si biksu muda dan Tuan Muda Sunoo yang berpendidikan. 

Semua yang berwarna merah jambu sudah hilang, dan telah digantikan oleh berbagai nuansa warna hijau. Aku ingin tahu apakah pohon-pohon persik mengubah pakaian mereka karena mata Tuan Muda Sunoo yang memesona itu.

Ehwa mulai mencintai Tuan Muda Sunoo, sedangkan biksu muda merasakan hal yang sama untuk Ehwa. Ia selalu berakhir dengan memikirkan Ehwa setiap kembali ke kampungnya, sementara ia tidak seharusnya memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan Ehwa (dunia). 

Ehwa, awalnya kusangka namamu sekecil bibit bunga. Kusangkan namamu bagaikan dandelion yang menerpaku sekilas dan kemudian terbang terbawa angin. Namun, nyatanya dari bibit itu tumbuhlah akar, dedaunan, dan kini menjadi nama sebesar pohon gingko. Nama itu menyelimuti sekujur tubuhku. (Hal. 296)

Dan sungguh, kutipan dari biksu muda yang galau itu benar-benar menghangatkan hati dan mataku. Dan di hari itu pula, Ehwa dan biksu muda mendapati bahwa keduanya sedang mencintai orang yang berbeda. Dengan kata lain, keduanya saling bertepuk sebelah tangan. Ehwa menyukai Sunoo yang hari itu kembali ke Provinsi Kwangju untuk melanjutkan sekolahnya dan biksu muda yang mendapati Ehwa sedang mengejar seseorang di statius kereta api. Keduanya patah hati, begitu pula aku.


Setidaknya aku ingin mengucapkan selamat berpisah padamu. Itulah sebabnya aku bahkan memakai krim ibu. Tapi kau pergi begitu saja. Apa yang harus kulakukan dengan bunga-bunga tiger lily yang kupetik dengan hati-hati untukmu ini?

Dan harus kalian ketahui, Warna Tanah ini ada sambungannya, Warna Air dan Warna Langit. Setelah baca Warna Tanah, rasanya harus punya juga kedua buku lanjutannya. Berhubung sudah agak lama diterbitkan (2010), mungkin harus dengan sedikit perjuangan untuk mendapatkan dua lanjutan Warna Tanah. 

Dan satu hal lagi yang membuatku nggak jadi menyesal membeli buku ini adalah puisi yang ada pada halaman depan karya Kim Dong Hwa.



Kekasihku tiba, tapi bukan menyambutnya,Aku hanya bisa menggigiti ujung celemekku dengan ekspresi hampa-Betapa kikuknya diriku.
Hatiku merindukannya, sebesar dan senyalang bulan yang purnamaNamun aku malah menyipitkan mata, tatapanku setajam dan setipis bulan sabit
Namun bukan aku melulu yang bertingkah begini.Ibuku dan ibu dari ibuku sama konyol dan canggungnya saat masih gadis..
Tapi cinta yang datang dari hatiku meluap-luap,Seterang dan semerah besi panas dalam tungku pandai besi.
Previous PostOlder Posts Home