[Book Review] If I Stay (Jika Aku Tetap Di Sini), Gayle Forman

Leave a Comment
Judul: If I Stay
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Januari, 2012 (cetakan keempat)
Tebal: 200 halaman
Rate: 4.5/5



Apa yang akan kita bayangkan ketika membaca sebuah kata 'bahagia'? Sama sepertiku, kurasa tokoh Mia Hall dalam novel ini memiliki pikiran yang sama. Ya, bahagia tidak lebih dari memiliki keluarga yang sederhana dan harmonis, memiliki masa depan yang cemerlang, dan seorang kekasih yang bisa dikatakan setengah-suami. Maksudku, kekasih yang sebenarnya, bukan kekasih selama semalam, sehari, seminggu atau satu tahun saja.

Mia Hall memiliki segalanya yang disebut 'bahagia' itu. Namun tidak pernah ada yang tahu takdir Tuhan. Semuanya hilang seperti dalam kejapan mata. Semuanya berakhir, di jalanan lembap yang masih menyisakan salju cair. Mia dan keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju rumah teman Dad dan Mom -Henry dan Willow- mengalami kecelakaan.

Truk pickup bermuatan empat ton dengan kecepatan sekitar seratus kilometer per jam menghantam sisi penumpang -mobil Dad-. Pintu-pintu terlepas, bangku bagian depan terlepas dan terlempar melalui kaca depan pengemudi. Ban-ban mobil terlempar jauh hingga ke dalam hutan. Singkatnya, kecelakaan itu terjadi sedemikian rupa. Sesingkat dan semudah mengoyak jaring laba-laba. 

Setelah benturan yang menyebabkan suara senyaring letusan bom itu berakhir, segalanya mendadak hening, kecuali Cello Sonata no.3 Bethoven -yang anehnya masih dapat mengalun pada radio mobil yang masih tersambung dengan aki mobil-.

Kala itu, Mia terbangun, mendengarkan adanya alunan musik yang bersuara di antara hening puing mobil -yang bentuknya sudah lebih menyerupai kerangka mobil-. Mia tertatih, mencoba merangkak dari dalam parit, tempat ia terlempar jauh dari mobilnya, dan mendapati kedua orang tuanya dalam keadaan mengerikan. Keduanya meninggal di tempat. Harapan Mia hanya tinggal pada adiknya, Teddy. Tapi yang ia temukan bukan tubuh Teddy, melainkan tubuhnya sendiri, terbaring kaku penuh darah dan luka di dalam parit -tempat ia merangkak sebelumnya-. 

Perjalanan Mia dalam bentuk kasatmata atau jiwa-yang-berpisah-dari-raga dalam buku ini benar-benar terbilang unik namun terasa amat nyata. Entah bagaimana, aku bisa merasakan semua detil yang disampaikan penulis dalam hidupnya Mia. Rasanya aku benar-benar tenggelam dalam jiwa Mia yang berkeliaran di rumah sakit, 24 jam setelah kejadian. Mia yang menyaksikan seluruh keluarganya meninggal seketika, menyaksikan keluarganya yang lain; Gran dan Gramps, bibi-paman, dan para sepupu, serta sahabatnya Kim dan Adam Wilde, kekasih setengah-suaminya itu, datang untuk memberikan dukungan padanya. Mia menyaksikan semua kejadian itu tanpa benar-benar bisa merasakannya. Entah bagaimana harus mengungkapkan bagian perasaan Mia, tapi bayangkan saja ketika kita dalam keadaan bermimpi, lalu melihat sesuatu yang tidak menyenangkan di dalam mimpi kita, kita ingin menghentikan segalanya, menyentuh sesuatu yang mungkin bisa menghentikan atau membuat mimpi itu lenyap seketika, atau mengucapkan kata-kata atau apapun untuk menghentikan kejadian yang sangat menyesakkan dada itu, tapi tidak bisa. Begitulah kurang lebih yang dirasakan Mia. 

Dan Mia terkatung-katung antara hidup dan matinya, ketidakpastian akan masa depannya, jika ia bangun dari komanya. Mia tak bisa membayangkan hidup tanpa Mom, Dad, dan Teddy, si adik kecil yang sangat disayanginya. Mia tak punya keberanian untuk menghadapi masa depan tanpa keluarganya. Mia terus merenungi masa depannya setelah kecelakaan itu dalam wujudnya yang masih berpisah antara raga dan jiwanya, antara nyata dan tidaknya. Mia mengenang masa-masa kecilnya, kehidupannya bersama keluarganya, hari ketika Teddy dilahirkan, pertemuan pertama dengan Adam, kisah cintanya -yang menurutku tidak sesuai jika dikatakan sebagai 'cinta monyet' untuk ukuran anak SMA- dan hal-hal lain yang membuatnya semakin bingung untuk bertahan atau menyudahi segala keganjilan dan ketidakpastian yang dirasakannya. 

Namun banyak hal yang membuat Mia ingin memilih untuk bertahan. Ketika Gramps mendatanginya, lalu berbisik,


"Tidak apa-apa," katanya. "Kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apapun yang kuinginkan di dunia ini." Suaranya tersekat emosi. Dia berhenti, berdeham, menarik napas, dan melanjutkan. "Tapi itu kemauanku dan aku bisa mengerti mungkin itu bukan kemauanmu. Maka aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang." -Hal. 151
Juga saat, Kim, sahabat karib yang sering dipanggil kembarannya mengecup keningnya dan berbisik,
"Kau masih punya keluarga." -Hal 184
Dan satu lagi bagian di mana Mia mengalami flashback -yang membuatku tersenyum dengan cengiran penuh iri-. Bagian di mana Adam, sang kekasih setengah-suami, mengumpulkan tip mengantar pizza selama dua minggu hanya untuk membelikan tiket konser Yo Yo Ma. Adam membelikan tiket itu untuk melihat Mia terhanyut dalam permainan cello sang master. Adam menyukai itu, saat-saat Mia larut dalam permainan cello yang mereka dengarkan bersama. Jelas saja, Adam si lelaki punk dalam novel ini membuatku berpikir ulang bahwa, "Ada saatnya, di mana laki-laki menjadi lelaki sesungguhnya. Kelak, ketika ia benar-benar menemukan 'the one, and only'-nya." Dan, Adam menemukan Mia, Mia ditemukan Adam. 

Tanpa ada satu bagian pun yang terasa hiperbolis dalam novel ini. Semuanya terasa amat sederhana, namun manis. Terasa nyata, tapi juga mistis. Entahlah, mungkin karena aku sudah terlalu menyukai Gayle Forman, atau terlalu larut dalam kisah cinta Adam-Mia. Tapi yang jelas, buku ini tidak hanya meninggalkan senyum atau air mata haru di akhir halamannya. Buku ini seperti ingin mengatakan, lewat kisah cinta Mia-Adam dan harmonisasi keluarga Mia, bahwa hidup tidak selamanya bahagia dengan banyaknya kekayaan yang mampu kita hasilkan sampai cukup hingga sepuluh turunan. Tapi bahagia bisa datang dengan hal-hal kecil yang kadang kita miliki namun juga kita lupakan, seperti arti kehidupan itu sendiri, keluarga, saudara, dan sahabat.

Syukurlah aku menemukan penulis seperti Gayle Forman (buku karangannya). Ia seperti berbiacara pada pembacanya. Dan novel If I Stay memiliki sekuel dengan judul Where She Went, versi Adam yang menjalani hidup bersama Mia. 

Ini beberapa quotes (diambil dari akun goodreads, versi asli -bukan terjemahan-) yang membuatku semakin menyukai semua tokoh dalam novel If I Stay. 

Sometimes you make choices in life and sometimes choices make you. -Dad

If you stay, I'll do whatever you want. I'll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I'll do that, too. I was talking to Liz and she said maybe coming back to your old life would be too painful, that maybe it'd be easier for you to erase us. And that would suck, but I'd do it. I can lose you like that if I don't lose you today. I'll let you go. If you stay. -Adam Wilde

Please Mia," he implores. "Don't make me write a song. -Adam Wilde

Girlfriend is such a stupid word. I couldn't stand calling her that. So, we had to get married, so I could call her 'wife. - Dad

This is the you I like. You definitely dressed sexier and are, you know, blond, and that's different. But the you who are tonight is the same you I was in love with yesterday, the same you I'll be in love with tomorrow. I love that you're fragile and tough, quiet and kick-ass.  - Adam

All relationships are tough. Just like with music, sometimes you have harmony and other times you have cacophony. I don't have to tell you that.” -Mom


Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments: