... yang terpenting adalah mengetahui bahwa cinta ini bisa kuberikan, tanpa tuntutan atau harapan. -John
Well, baru beberapa jam yang lalu novel ini selesai kulahap. Kesan setelah itu, "mungkin beberapa bulan lagi aku akan baca ulang, lagi, lagi dan lagi." Tidak bermaksud hiperbolis, tapi nyata kalau novel ini benar-benar karya Nicholas Sparks yang bikin pembacanya -atau mungkin aku, tapi kuyakin semua orang yang gila novel romance- menangis dan tertawa dalam waktu yang bersamaan. Jujur, ada beberapa bagian yang buat mataku kabur, lebih tepatnya sama air mata.
John Tyree, 23 tahun. Pemuda dari pesisir pantai Wilmington, North Carolina, yang dengan cara Tuhan menemukan cinta sejatinya, bisa dikatakan seperti itu. John tinggal bersama ayahnya yang menggilai koin-koin kuno, kaku, pendiam, pemalu dan juga kurang bisa bersosialisasi dengan lingkungannya. Sejak kecil, John tidak pernah mengenali siapa ibunya. Dan ia tidak pernah meminta ayahnya untuk menceritakan tentang itu, dan baginya ia tidak butuh tahu.
Terlepas dari semua itu, sebagai anak remaja yang sedang dalam masa-masa mencari jati dirinya, John tumbuh menjadi pemuda yang 'berantakan'. Maksudku, dia tidak benar-benar belajar selama di kelasnya, dia tidak memiliki teman-teman yang sesuai. John bahkan tidak yakin ia diluluskan dari SMA-nya karena benar-benar bisa lulus atau karena pihak sekolah tidak ingin menangani murid nakal sepertinya lagi. Dan di luar semua itu, ayah John tidak pernah marah atau menuntut lebih darinya.
Beberapa tahun setelah tamat SMA, John berpindah-pindah pekerjaan paruh waktu, menghabiskan hari-harinya di bar bersama teman senasib -tidak punya masa depan cerah-, berselancar, dan pulang ketika ingin pulang. Hingga tiba waktunya di mana John merasa bahwa yang ia lakukan tidak cukup benar. John ingin lebih dari itu. Ia ingin seperti teman-temannya yang sukses, memiliki barang-barang mahal, dan kehidupan yang lebih baik. John dan ayahnya memang tidak mengalami kekurangan dalam biaya hidup sehari-hari. Hanya saja kehidupan yang terlalu monoton bersama ayahnya membuat semua kesederhanaan hidup tidak menjadi cukup.
Ia juga muak dengan permbahasan ayahnya tentang koin-koin itu. Di sinilah masalahnya. Ayah John tidak bisa berbicara atau tidak punya topik lain yang ingin dibahasnya kecuali tentang koin dan koin. Hingga tiba di mana John bosan dan memutuskan untuk mendaftar menjadi tentara angkatan laut -setidaknya dia punya kegiatan lain selain duduk di rumah dan mendengarkan ayahnya bicara tentang koin-.
Namun takdir berbelok lagi. Penjaga pendaftaran di kantor militer angkatan laut saat itu sedang beristirahat makan siang, akhirnya John memutuskan untuk mendaftar di militer angkatan darat yang kantornya hanya berseberangan jalan. John tidak mempermasalahkan itu. Walaupun ia menginginkan angkatan laut, tapi baginya, di manapun itu -angkatan darat atau laut-, keduanya sama-sama menggunakan senjata untuk melumpuhkan musuh.
Ia juga muak dengan permbahasan ayahnya tentang koin-koin itu. Di sinilah masalahnya. Ayah John tidak bisa berbicara atau tidak punya topik lain yang ingin dibahasnya kecuali tentang koin dan koin. Hingga tiba di mana John bosan dan memutuskan untuk mendaftar menjadi tentara angkatan laut -setidaknya dia punya kegiatan lain selain duduk di rumah dan mendengarkan ayahnya bicara tentang koin-.
Namun takdir berbelok lagi. Penjaga pendaftaran di kantor militer angkatan laut saat itu sedang beristirahat makan siang, akhirnya John memutuskan untuk mendaftar di militer angkatan darat yang kantornya hanya berseberangan jalan. John tidak mempermasalahkan itu. Walaupun ia menginginkan angkatan laut, tapi baginya, di manapun itu -angkatan darat atau laut-, keduanya sama-sama menggunakan senjata untuk melumpuhkan musuh.
Lalu, cuti pertamanya setelah resmi menjadi anggota militer, John kembali ke rumah ayahnya. Dan setelah mengikuti pelatihan militer, John merasa telah ada yang berubah dalam dirinya. Ia menjadi lebih dewasa dibandingkan sebelumnya. Setidaknya, selama di kamp pelatihan militer, John benar-benar menjadi pelajar yang baik dan tidak pernah membuat masalah.
Sementara itu, di pesisir pantai Wilmington, dua hati dipertemukan Tuhan. Tanpa sengaja, John bertemu dengan mahasiswa yang -kebetulan- sedang mengadakan semacam bakti sosial -membangun rumah untuk penduduk kurang mampu- di daerah pesisir tempat John sering berselancar. Hanya dengan permulaan kata 'hai' dan kecelakaan kecil, John dan Savannah bertemu. Ketika tatapan mata John bertemu dengan mata Savannah, segalanya terasa nyata. Entah cinta pada pandangan pertama atau memang ada jalan -takdir- yang membuat mereka merasakan bahwa, 'Ah, ya! Aku sudah berjodoh dengan orang ini.'
Baiklah, terdengar berlebihan sementara ini hanya cerita dari dalam novel fiktif. Tapi maksudku adalah, bagaimana Sparks mampu mengungkapkan kejadian-kejadian yang sederhana di antara John dan Savannah menjadi lebih dan selalu manis untuk dikenang. Belum lagi caranya - Sparks- mengungkapkan tiap detil setting dalam buku ini. Ia mampu mengungkapkan ombak laut dari kumpulan kata-kata 'pasif' menjadi sangat nyata. Rasanya seperti benar-benar sedang berada di bibir pantai, melihat rumah pantai, berselancar di tengah ombak dan lain sebagainya. Singkatnya, menurutku Sparks ahli dalam urusan membuat kita berkhayal seperti ingin dia gambarkan.
Konflik pertama antara John, Savannah dan Ayahnya John memang terbilang tidak terlalu rumit, menurutku. Namun, solusi dari konflik malah membuat tokoh-tokoh di dalamnya menjadi lebih 'dekat'. Sementara konflik antara John dan Savannah yang dimulai ketika John harus kembali ke Jerman -semacam misi perdamaian-, mulai terasa rumit. Melihat bagaimana John dan Savannah berjuang mempertahankan hubungan yang mereka bina hanya lewat surat dan telepon yang terbilang jarang. Menyesakkan, tapi manis.
Baiklah, aku tidak akan spoiler tentang kejadian-kejadian penting yang memang harusnya kalian baca sendiri. Yang jelas, kalau kalian termasuk penggila bacaan romance, Dear John adalah buku romance dengan kisah cinta dua anak desa yang berkelas -tidak kampungan dengan segala remeh-temeh membosankan-. Nah, perlu diingat juga, dalam buku ini, Sparks tidak hanya mengungkapkan betapa luar biasanya kekuatan dan ketulusan cinta dua insan berbeda jenis kelamin, tapi juga bagaimana indahnya hubungan ayah-anak (keluarga) dan juga hubungan manusia dengan alam. Ditambah lagi dengan beberapa pengetahuan dari segi psikologi -yang membahas sindrom Asperger, yang kata Savannah diderita oleh ayah John-, beberapa sentuhan ilmu kedokteran dan percakapan-percakapan yang mengungkapkan betapa pentingnya hubungan sosial sesama manusia.
Konflik pertama antara John, Savannah dan Ayahnya John memang terbilang tidak terlalu rumit, menurutku. Namun, solusi dari konflik malah membuat tokoh-tokoh di dalamnya menjadi lebih 'dekat'. Sementara konflik antara John dan Savannah yang dimulai ketika John harus kembali ke Jerman -semacam misi perdamaian-, mulai terasa rumit. Melihat bagaimana John dan Savannah berjuang mempertahankan hubungan yang mereka bina hanya lewat surat dan telepon yang terbilang jarang. Menyesakkan, tapi manis.
Baiklah, aku tidak akan spoiler tentang kejadian-kejadian penting yang memang harusnya kalian baca sendiri. Yang jelas, kalau kalian termasuk penggila bacaan romance, Dear John adalah buku romance dengan kisah cinta dua anak desa yang berkelas -tidak kampungan dengan segala remeh-temeh membosankan-. Nah, perlu diingat juga, dalam buku ini, Sparks tidak hanya mengungkapkan betapa luar biasanya kekuatan dan ketulusan cinta dua insan berbeda jenis kelamin, tapi juga bagaimana indahnya hubungan ayah-anak (keluarga) dan juga hubungan manusia dengan alam. Ditambah lagi dengan beberapa pengetahuan dari segi psikologi -yang membahas sindrom Asperger, yang kata Savannah diderita oleh ayah John-, beberapa sentuhan ilmu kedokteran dan percakapan-percakapan yang mengungkapkan betapa pentingnya hubungan sosial sesama manusia.
Dan, ya! Aku cinta John, juga Savannah. Menyerupai cintaku pada Adam di novel If I Stay. Mereka adalah laki-laki sejati -setidaknya dalam berlembar-lembar halaman novel-. Aku menyukai John yang bersikap dewasa menghadapi Savannah. Menyukai John yang menghormati dan menghargai Savannah sebagai wanita religius dan gadis baik-baik. Well, John tidak sembarangan 'menyentuh' Savannah, sekalipun entah berapa ratusan atau ribuan kali ia ingin melakukannya. Dan John sama sekali tidak mempermasalahkan setiap kekurangan yang dimiliki Savannah. Dia benar-benar mencintai dengan gila, atau dengan tulus, atau lebih dari itu -sekali lagi, setidaknya dalam novel ini-.
Dan Savannah, aku menyukai beberapa prinsipnya. Sedikit banyak, Savannah dan aku -baikalah, lupakan kata 'aku'-, mirip. Jangan bayangkan bahwa aku secantik Savannah yang digambarkan Sparks dalam novelnya. Aku suka sifatnya yang 'liar'. Maksudku, dia sangat dekat dengan alam. Aku suka -seperti halnya Savannah menyukai- pegunungan, aku suka melihat Savannah menyukai kuda-kuda perliharannya, aku suka sifat religiusnya, aku suka kepatuhan Savannah pada kedua orang tuanya, aku suka cara Savannah mencintai John tanpa mempermasalahkan masa lalu John yang berantakan dan segala kekurangan di dalam diri John, dan aku suka bagaimana Savannah menjaga kehormatannya sebagai gadis baik-baik, dengan keteguhannya, moral-moral dan sentuhan religiusnya. Yang paling penting, ia tidak sembarangan memberikan 'segalanya' untuk 'siapapun'. Benar-benar terdengar religius, juga kuno, tapi memperingatkan kaum hawa; bahwa perempuan itu bukan barang murahan yang bisa 'dipakai' dan 'disentuh' semaunya oleh sembarangngan orang. Dan, ya! Sekali lagi ini hanya novel. Jangan terlalu serius pada hal-hal yang mungkin bertentangan dengan cara pikirmu. Nikmati, pahami, dan cukup untuk hiburan bagi diri sendiri.
Sebenarnya masih banyak yang ingin kubahas. Tapi rasanya aku akan sanggup membongkar sampai detil-detil yang harusnya kalian baca sendiri. Over all, aku mulai menyukai tulisan Nicholas Sparks. Mungkin harus melakukan pemburuan lebih lanjut terhadap buku-buku karangannya. By the way, aku bisa sangat beruntung mendapatkan Dear John ini sebagai -bisa dikatakan hadiah- dari seorang kakak yang sangat baik hati bernama Seiska. LOL -Lots of Love-
Baiklah! Seperti biasa, mungkin beberapa quotes akan menambahkan kesan 'rating 4' untuk novel ini.
I finally understood what true love meant...love meant that you care for another person's happiness more than your own, no matter how painful the choices you face might be. -John
I love you, not just for now, but for always, and I dream of the day that you’ll take me in your arms again.
If you come back; I'll marry you. If you break your promise, you'll break my heart. -Savannah
Dear John, tell me everything. Write it all down, that way, we’ll be with each other all the time, even if we’re not with each other at all. -Savannah
There are memories for both of us, of course, but I've learned that memories can have a physical, almost living presence, and in this, Savannah and I are different as well.If hers are stars in the nighttime sky, mine are the haunted empty spaces in beetween. -John
0 comments:
Post a Comment