[Book Review] Just One Day, Gayle Forman

Leave a Comment
Judul Buku: Just One Day
Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chufsani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2013
Tebal: 400 halaman
Rating: 4.1/5

Buku ketiga karangan Gayle Forman yang berhasil ku'adopsi'. Gayle Forman adalah penulis If I Stay dan Where She Went yang bukunya sudah jadi International Best Seller dan di-film-kan. Dan kamu harusnya sudah bisa bayangkan sendiri seperti apa buku ini. 

Just One Day mengambil sudut pandang tokoh utama wanitanya, Allyson Healey. Sebagai gambaran awal, Allyson ini adalah anak tunggal. Well, -seperti kebanyakan- anak tunggal, Mom akan menjadi orang yang super-over-protective. Segala sesuatu dalam hidup Allyson dijadwalkan, diatur, ditata, dan dirancang oleh Mom. Bahkan untuk cita-citanya, Allyson pun harus menuruti keinginan Mom. Istilah kasarnya, Allyson 'dicetak' sesuai dengan keinginan Mom. 

Tapi semua itu berputar berlawanan arah sejak pertemuan tak sengaja yang terjadi saat Allyson sedang tour keliling Eropa. Allyson dan Melanie, sahabatnya, mendapat tiket tour keliling Eropa dari orang tua mereka sebagai hadiah kelulusan SMA. Dan tiba di negara terakhir dari tour mereka, London, Allyson dan Melanie bertemu dengan seorang lelaki tampan yang membagikan brosur street performance. Dengan sedikit keberanian dan rasa penasaran dengan lelaki-tampan-pembagi-borsur tadi, Allyson dan Melanie terpaksa menipu tour guide mereka. Hasil dari menipu itu adalah, mereka -Allyson dan Melanie- tidak jadi menonton Hamlet di teater bersama anak-anak lainnya, tapi malah menelusuri London di malam hari dan menonton pertunjukan teater jalanan. 

Allyson terpesona dan tersentuh dengan pertunjukan Twelfth Night -karya Shakespare- yang dipertunjukkan oleh Gerillya Will, kelompok teater jalanan. Terlebih lagi pada pemeran Sebastian, lelaki-tampan-pembagi-brosur itu. Allyson benar-benar menikmati pertunjukan -teater dan 'Sebastian'. Di akhir pertunjukan, 'Sebastian' melemparkan sebuah koin kuno ke pada Allyson dan disambut dengan baik olehnya. 

Paginya, sebelum kembali pulang ke Amerika, Allyson bertemu lagi dengan Willem (pemeran Sebastian di teater jalanan) di stasiun kereta. Sebastian aka Willem, memberinya nama Lulu yang diambil dari nama aktris Louise Brooks -yang mempopulerkan model rambut bob-, karena Allyson juga memiliki gaya rambut yang sama. Dan menjelang perpisahan mereka -Allyson akan kembali ke Amerika dan Willem kembali ke Belanda-, Willem mengajak Allyson untuk bertualang ke Paris. Allyson sangat menginginkannya, karena semestinya tour keliling Eropa ini memang membawanya ke Paris, namun karena sesuatu hal, akhirnya rombongan tour tidak jadi ke Paris. 

Allyson sudah menjadi Lulu. Dan Lulu berbeda dengan Allyson. Lulu bukan gadis penurut dan penuh aturan. Lulu bukan Allyson yang hidup dalam kamar tanpa pintu atau jendela. Lulu gadis petualang yang bebas, berani, dan bisa berkata 'ya'. Berkat siapa? Berkat Willem! Willem memperkenalkan pada Lulu -Allyson- banyak hal selama perjalanan mereka ke Paris. Mulai dari karya-karya Shakespare, kanal-kanal di negara Belanda, sampai mengajarkan pada Lulu perbedaan antara being in love dan falling in love

Perjalanan di Paris selama setengah hari bersama Willem benar-benar membuat Lulu merasa perjalanan tour di negara-negara sebelumnya bersama rombongan tour tidak ada apa-apanya. Perjalanan yang hanya akan berlangsung selama satu hari bersama Willem benar-benar telah mengukir banyak kenangan di memori dan hati Lulu. 'Kecelakaan' demi 'kecelakaan' mereka lewati bersama. Dan untuk pertama kalinya, Allyson yang telah berubah menjadi Lulu Si Pemberani merasakan arti hidup, kebebasan, dan perasaan bahagia yang sesungguhnya bersama Willem, orang asing yang baru ditemuinya kemarin. Allyson bisa berkata jujur, terbuka dan 'apa-adanya' di hadapan Willem. Allyson's Willem just reminds me of my 'Willem'.

Dan seperti janji Willem di hari sebelumnya, perjalanan mereka di Paris hanya satu hari. Tepat setelah matahari muncul dari timur kota Paris, Willem telah pergi. Lulu kembali menjadi Allyson. Allyson yang penakut, teratur, dan mulai kehilangan arah. Allyson ditinggalkan dalam kedaan miskin -tidak punya sepeser euro lagi-. Dan dengan bantuan Ms. Foley, tour guide perjalanan keliling Eropa kemarin, Lulu aka Allyson bisa kembali ke Amerika dengan selamat. 

Tidak sampai di situ. Perjalanan Allyson dalam Just One Day masih berlanjut. Aku nggak akan spoiler. Kamu harus cari tau sendiri, karena banyak hal yang bakal membuatmu tercengang dan berpikir sama sepertiku bahwa 'nggak ada yang namanya kebetulan.' Seperti kata Napoleon Bonaparte -yang juga kupercayai-, "There is no such thing as accident; it is fate misnamed." Segala kejadian yang terjadi dalam hidup sebenarnya adalah jalan yang sudah 'ditentukan' arahnya, hanya saja kita menjumpai 'jalan' tersebut dengan persepsi dan dalam keadaan yang tidak terduga atau kadang-kadan terasa sangat 'ajaib'.

Jangan puas sampai di sini karena Just One Day punya sekuel dengan judul Just One Year. So, siap-siap dibawa tour keliling London, Paris dan Belanda oleh Gayle Forman. Gayle benar-benar pintar membuat kita merasa sedang berjalan-jalan melintasi kebun tulip, melihat kincir angin, lalu makan macaron warna-warni, atau berjalan di tepi sungai Seine, dan menjelajahi gang-gang kecil berudara uap kopi di kota Paris. 

Seperti biasa, kupilihkan beberapa quotes yang kusuka dan mungkin bisa membuatmu semakin ingin membaca buku ini:

We are born in one day. We die in one day. We can change in one day. And we can fall in love in one day. Anything can happen in just one day. -Allyson

You have to fall in love to be in love, but falling in love isn't the same as being in love. -Willem

And that's when I understand that I have been stained. Whether I'm still in love with him, whether he was ever in love with me, and no matter who he's in love with now, Willem changed my life. He showed me how to get lost, and then I showed myself how to get found. -Allyson

 "Goeiemorgen," katanya, dengan suara masih kental oleh kantuk. --- "Kurasa itu artinya selamat pagi, meski sebenarnya sekarang masih sore." --- "Kau lupa, waktu tidak berlaku lagi. Kau memberikannya padaku."
"Aku akan jadi gadis gunungmu dan akan merawatmu." --- "Dan sebagai balasannya, aku akan membebaskanmu dari kungkungan waktu." Dia menyelipkan arlojiku dalam pergelangan tangannya, tempat benda itu tidak kelihatan seperti borgol.


Just One Day by Gayle Forman photo Just-One-Day_510x765.jpg




Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments: