Dari jutaan bunga di dunia, tak ada yang seperti bunga labu. Bunga labu merekah hanya ketika semua orang telah tertidur. Menghias dirinya dengan warna putih yang diciptakan debu bulan, bunga labu dengan penuh hasrat menantikan kekasihnya sepanjang malam. (Hal.75)
Novel grafis
karya Kim Dong Hwa ini adalah satu-satunya novel grafis atau lebih tepatnya
novel grafis (bergambar) yang pertama kali kubaca setelah sekian tahun membaca
banyak novel. Berawal dari ketidaksengajaan memesan buku ini via-online, dan
hanya melihat sampul serta resensi yang berupa narasi singkat tentang isi
ceritanya. Kupikir karena ada beberapa kutipan yang puitis dalam resensi
tersebut, novel ini pasti sejenis novel klasik dengan puisi-puisi indah di
dalamnya. Ternyata setelah dipesan (dibeli), isinya sedikit melenceng dari
perkiraan.
Halamannya
penuh gambar, seperti komik atau memang komik, tapi dengan dialog antar tokoh
dan narasi singkat yang lebih tepatnya diperuntukkan untuk pembaca usia belia
hingga dewasa menengah. Bahasanya yang puitis dengan sentuhan budaya klasik
Korea membuat novel grafis ini menjadi sangat menyenangkan dan membuatku tidak
tega meninggalkannya dan ingin melahapnya dalam sekali duduk.
Novel
ini berkisah tentang dunia dan kehidupan dari sudut pandang wanita yang berbeda
usia. Ehwa, gadis kecil yang tinggal bersama ibunya di sebuah desa bernama
Namwon. Ibu Ehwa adalah seorang janda yang memiliki kedai minum kecil-kecilan.
Pengunjung kedainya adalah laki-laki yang kebanyakan bersikap tidak sopan dan
sering mengoda ibunya Ehwa. Ehwa kecil terkadang merasa sedih dan kesal saat
ibunya dikata-katai atau diperlakukan secara tidak sopan oleh pelanggan kedai
minum mereka. Ehwa pun menyampaikan kekesalannya pada sang ibu. Tapi ibu Ehwa
malah bersikap sebaliknya. Walaupun ia merasa kesal, ia tetap berusaha
menjelaskan pada Ehwa bahwa ia harus melayani pelanggan kedai minumnya dengan
baik.
Aku suka sekali pada bagian yang menceritakan saat Ehwa bertemu dengan cinta
pertamanya, seorang biksu muda. Pertemuan yang tidak disengaja itu terjadi di
atas jembatan yang hanya bisa dilalui oleh satu orang dan dikelilingi oleh
bunga tiger lily. Sejak hari itu, Ehwa selalu menyukai bunga tiger lily yang
mengingatkannya pada cinta pertamanya. Salah satu hal yang membuat Ehwa, aku pun
demikian, menyukai si biksu muda itu adalah kata-katanya yang,
Meskipun tumbuh di seantero pegunungan, bunga ini indah, persis dirimu. Tiger lily adalah satu-satunya bunga yang dengan senang hati menghadap ke matahari dan mekar meskipun tidak ada siapa-siapa di dekatnya untuk menyaksikan. (Hal. 111)
Bayangkan, hati wanita mana yang tidak tersipu malu saat dikatakan demikian?
Haha... Kemudian dipaparkan pula tentang kerinduan Ehwa pada si biksu yang sedang
mengembara. Ehwa menunggu di atas jembatan pertama mereka bertemu, dengan
bunga-bunga tiger lily di dekatnya. Lalu Ehwa melihat kupu-kupu mulai mendekati bunga-bunga disekitarnya,
Apakah kalian (kupu-kupu) tertarik pada bunga lili karena aromanya bagaikan pakaian kelabu si biksu muda? Hati kalian pasti pedih karena tidak dapat melihat orang yang kalian rindukan, sama seperti aku.
Kemudian pada bab 6 dikisahkan tentang Ehwa yang semakin hari semakin
tumbuh menjadi gadis belia dan mendapati banyak perubahan dalam dirinya. Perubahan
dari segi sikap dan tubuhnya yang semakin hari semakin "bermetamorfosis" menjadi gadis yang cantik dan utuh. Ada
hal yang menggelitik saat membaca bagian di mana Ehwa mendapatkan haid-nya
untuk pertama kali. Ehwa ketakutan dan mengira dirinya akan segera mati karena
terjadi perdarahan secara mendadak seperti itu. Tapi setelah dijelaskan oleh
ibunya bahwa ia sedang menjalani proses menjadi dewasa, Ehwa merasa senang.
Tergambar pada satu halaman penuh di mana tidak ada percakapan, hanya ada
beberapa gambaran wajah Ehwa yang merona, tersenyum dan menyengir bahagia.
Di hari yang sama, Ehwa bertemu dengan Sunoo, seorang putra petani buah yang bersekolah di Provinsi Kwangju. Wajahnya yang tampan dan sifatnya yang baik membuat Ehwa tertarik dan mulai menyukainya. Lalu sejak hari itu, Ehwa merasa gundah. Ia menyukai dua laki-laki yang sama-sama baik, si biksu muda dan Tuan Muda Sunoo yang berpendidikan.
Semua yang berwarna merah jambu sudah hilang, dan telah digantikan oleh berbagai nuansa warna hijau. Aku ingin tahu apakah pohon-pohon persik mengubah pakaian mereka karena mata Tuan Muda Sunoo yang memesona itu.
Ehwa mulai mencintai Tuan Muda Sunoo, sedangkan biksu muda merasakan hal yang sama untuk Ehwa. Ia selalu berakhir dengan memikirkan Ehwa setiap kembali ke kampungnya, sementara ia tidak seharusnya memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan Ehwa (dunia).
Ehwa, awalnya kusangka namamu sekecil bibit bunga. Kusangkan namamu bagaikan dandelion yang menerpaku sekilas dan kemudian terbang terbawa angin. Namun, nyatanya dari bibit itu tumbuhlah akar, dedaunan, dan kini menjadi nama sebesar pohon gingko. Nama itu menyelimuti sekujur tubuhku. (Hal. 296)
Dan sungguh, kutipan dari biksu muda yang galau itu benar-benar menghangatkan hati dan mataku. Dan di hari itu pula, Ehwa dan biksu muda mendapati bahwa keduanya sedang mencintai orang yang berbeda. Dengan kata lain, keduanya saling bertepuk sebelah tangan. Ehwa menyukai Sunoo yang hari itu kembali ke Provinsi Kwangju untuk melanjutkan sekolahnya dan biksu muda yang mendapati Ehwa sedang mengejar seseorang di statius kereta api. Keduanya patah hati, begitu pula aku.
Setidaknya aku ingin mengucapkan selamat berpisah padamu. Itulah sebabnya aku bahkan memakai krim ibu. Tapi kau pergi begitu saja. Apa yang harus kulakukan dengan bunga-bunga tiger lily yang kupetik dengan hati-hati untukmu ini?
Dan harus kalian ketahui, Warna Tanah ini ada sambungannya, Warna Air dan Warna Langit. Setelah baca Warna Tanah, rasanya harus punya juga kedua buku lanjutannya. Berhubung sudah agak lama diterbitkan (2010), mungkin harus dengan sedikit perjuangan untuk mendapatkan dua lanjutan Warna Tanah.
Dan satu hal lagi yang membuatku nggak jadi menyesal membeli buku ini adalah puisi yang ada pada halaman depan karya Kim Dong Hwa.
Kekasihku tiba, tapi bukan menyambutnya,Aku hanya bisa menggigiti ujung celemekku dengan ekspresi hampa-Betapa kikuknya diriku.
Hatiku merindukannya, sebesar dan senyalang bulan yang purnamaNamun aku malah menyipitkan mata, tatapanku setajam dan setipis bulan sabit
Namun bukan aku melulu yang bertingkah begini.Ibuku dan ibu dari ibuku sama konyol dan canggungnya saat masih gadis..
Tapi cinta yang datang dari hatiku meluap-luap,Seterang dan semerah besi panas dalam tungku pandai besi.
0 comments:
Post a Comment