[Book Review] Novel Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono

Leave a Comment
25736858
Novel Hujan Bulan Juni
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Jumlah halaman: 144 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Rating: 3.34 (Goodreads)

Novel Hujan Bulan Juni bercerita tentang kisah cinta Sarwono dan Pingkan. Sarwono dengan Jawa yang kental dan Pingkan, gadis campuran Jawa dan Manado, yang lebih bahagia jika dianggap sebagai orang Jawa. Perbedaan tidak hanya terletak pada suku, tapi juga agama yang dianut keduanya. 

Karakter utama ini diceritakan dengan khasnya masing-masing. Sarwono yang tidak tegas, plin-plan dan kurang cekatan, serta Pingkan yang mandiri dan dewasa. Kedekatan keduanya tidak pernah diresmikan oleh Sarwono meskipun keduanya sama-sama mengetahui perasaan mereka saling memiliki. Semua orang juga sudah mengetahui bahwa Sarwono menyukai Pingkan, dan begitu pula sebaliknya. Tapi, lagi-lagi perbedaan suku, keyakinan, adat keluarga dan segala jenis tetek-bengek masalah pemilihan jodoh dan perjodohan menjadi hambatan bagi keduanya untuk mengarahkan perasaan mereka ke dalam suatu hubungan yang nyata dan serius.

Tak sampai di situ, Pingkan dan Sarwono terpaksa harus berjauh-jauhan karena Pingkan harus melanjutkan kuliahnya ke Kyoto. Saat itulah, Sarwono benar-benar terlambat menyatakan perasaannya secara resmi kepada Pingkan dan Sarwono secara terpaksa menyelesaikan hubungan mereka dengan cara yang tidak adil. 




Novel Hujan Bulan Juni adalah adaptasi dari buku kumpulan puisi berjudul yang sama. Saya sendiri belum pernah membaca buku kumpulan puisinya Sapardi, dan buku ini adalah buku pertama karya Sapardi yang saya baca. Sepanjang perjalanan saya membaca buku Sapardi, kening saya berkerut-kerut, dan sering kali mengulang-ulang membaca pada suatu kalimat atau satu paragraf. Berbagai majas dan penulisan khas buku sastra pada novel ini sepertinya tidak terlalu cocok dengan kemampuan saya untuk mengerti, sehingga membuat saya harus membaca pelan-pelan dan berulang-ulang untuk dapat memahami apa yang sebenarnya ingin Eyang Sapardi sampaikan di novel ini. Tapi, secara keseluruhan, cerita dan beberapa puisi yang diselipkan di novel ini sangat menyenangkan untuk dibaca. 



Tiga sajak kecil


/i/
Bayang-bayang hanya berhak setia
Menyusur partier ganjil
Suaranya angin tumbang
Agar bisa berpisah
Tubuh ke tanah
Jiwa ke angkasa
Bayang-bayang ke sebermula
Suaramu lorong kosong
Sepanjang kenanganku
Sepi itu, mata air itu
Diammu ruang lapang
Seluas angan-anganku
Luka itu, muara itu

/ii/
Di jantungku
Sayup terdengar
Debarmu hening
Di langit-langit
Sayup terdengar
Debarmu hening
Di langit-langit
Tempurung kepalaku
Terbit silau
Cahayamu
Dalam intiku
Kau terbenam
/iii/
Kita tak akan pernah bertemu:
Aku dalam dirimu
Tiadakah pilihan
Kecuali disitu?
Kau terpencil dalam diriku

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments: