[Book Review] Where She Went, Gayle Forman

Leave a Comment
WARNING: Jangan dimulai, atau jangan diteruskan membaca novel ini kalau kamu belum membaca sekuel pertamanya: If I Stay. Karena kamu akan nggak nyambung banget sama tokoh-tokoh yang muncul dan tragedi-tragedi yang memang bisa dibilang saling berhubungan dengan novel yang sebelumnya. So, pastikan kamu membacanya secara berurutan -If I Stay, Where She Went- supaya bisa mendapatkan pesan yang memang seharusnya kamu dapatkan!

Cerita ini berawal tiga tahun setelah kecelakaan Mia dan keluarganya. Tiga tahun pula sejak Mia dan Adam tidak lagi saling behubungan. Dalam tiga tahun, banyak hal yang berubah. Salah satunya takdir.

Ketenaran, kekayaan, hingar-bingar kehidupan sebagai penyanyi rock tampan yang terkenal sedunia menjadi takdir Adam Wilde. Berkat Mia juga. Putusnya hubungan Adam dan Mia yang berlangsung dengan cara yang tidak semestinya membuat hidup Adam berubah drastis. Mia menjauhi Adam setelah sembuh dari luka akibat kecelakaannya dan trauma yang dirasakannya. Mia juga menghilang, seiring dengan jadwal kuliahnya yang padat di Julliard. 

I get it now. I have to make good on my promise. To let her go. To really let her go. To let us both go.

Dan sejak hari itu, Adam vakum dari bandnya, kembali ke rumah orang tuanya, mengurung diri di kamar dan menjadi Adam yang berbeda. Akhirnya, luka patah hati membuat tangan Adam menuliskan banyak lagu baru. Adam kembali menemui anggota band-nya dengan beberapa lagu yang siap dijadikan album dan akhirnya masuk dapur rekaman, tour di beberapa kota, dan setelah itu karier Adam serta band-nya meroket seketika. 

Setelah terkenal dan memiliki banyak penggemar, hidup Adam tidak menjadi lebih baik. Ia memiliki sindrom panik. Dan tebak apa yang terjadi setelah Adam menjadi terkenal? Adam dipertemukan lagi dengan Mia Hall, setelah tiga tahun lamanya. 

New York, selama 24 jam, pertemuan canggung dengan wanita yang 'pernah' sangat mencintainya. Mia berubah, begitu pula Adam. Pertemuan itu juga membuat mereka bertualang di New York. Hingga di akhir pertemuan mereka, semua pertanyaan yang selama tiga tahun mengendap di dasar hati Adam mulai menguap satu per satu ke udara. Dan satu per satu pula pertanyaan itu terjawab hingga tak ada lagi yang ingin dan yang butuh mereka jelaskan satu sama lain.

You talked to me, but you didn’t. I could see you having these two-sided conversations. The things you wanted to say to me. And the words that actually came out.

Masih seperti If I Stay, novel ini menggunakan narator tunggal atau dengan kata lain novel ini versi kehidupannya Adam. Dan masih seperti novel sebelumnya, Where She Went memiliki kekuatan yang sama dan membuatku membayangkan semua yang ada di dalamnya secara realistis. Tokoh Adam dan Mia terasa benar-benar sederhana namun nyata. Gaya bahasa yang digunakan juga ringan dan mengalir. Dan jelas, tanpa ada satu bagian pun yang terasa hiperbolis di dalamnya. 

There are so many things that demand to be said. Where did you go? Do you ever think about me? You've ruined me. Are you okay? But of course, I can't say any of that.

Where She Went juga memiliki perbedaan dari novel sebelumnya. Dibandingkan dengan novel If I Stay yang lebih banyak menggunakan alur flashback, novel ini lebih banyak menceritakan alur majunya. Namun, kalau sebelumnya kita membaca kisah cinta Adam dan Mia di novel If I Stay tanpa melanjutkan ke novel Where She Went, kita tidak akan pernah menebak bagaimana perasaan Adam yang sesungguhnya pada Mia. Novel ini mempertegas kenyataan bahwa cinta Adam dan Mia bukan cerita cinta-romansa-SMA. Entahlah, tapi aku membayangkan bagaimana rasanya jika aku memiliki Adam Wilde dikehidupanku yang nyata. Adam memiliki cinta yang tidak berkarat, karena ia mencintai tanpa bersyarat.

...and yes, it was a high school romance, but it was still the kind of romance where I thought we were trying to find a way to make it forever...

Menurutku kekurangan novel ini terletak pada musiknya. Di dalam If I Stay pernah dijelaskan bahwa yang mempersatukan Adam dan Mia adalah musik. Namun di novel ini, musik tidak terasa se-bernyawa-nya di novel If I Stay. Di novel If I Stay, jelas terlihat bagaimana musik seperti cupid yang mendekatkan Adam dan Mia, menyatukan mereka dan juga memisahkan mereka. Tapi di novel ini, kekuatan musik Adam tidak terlalu menonjol. Tapi ini salah satu lirik lagu Collateral Damage yang paling aku suka. 

"First you inspect me
Then you dissect me
Then you reject me
I wait for the day
That you'll resurrect me"
-Animate-

Somehow, If I Stay dan Where She Went tetap menjadi novel kesukaanku. Yang jelas, keduanya bukan sembarang novel romance yang menjelaskan seluk-beluk percintaan cengeng dan membosankan. Banyak pesan yang melekat -harusnya-. Karena setelah membaca buku ini, aku menyimpulkan bahwa novel ini bukan hanya memperlihatkan bagaimana cinta itu harusnya 'diperlakukan', tapi juga memberikan kita gambaran tentang bagaimana pentingnya menghargai sebuah 'kehadiran' dan betapa 'hinanya' perasaan 'kehilangan'.

In the calculus of feelings, you never really know how one person's absence will affect you more than another's.



Judul: Where She Went
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2011
Tebal: 240 hl




Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments: