Pada hari di mana matahari tidak pernah lagi berhasil melukiskan petang
Atau pada malam yang tidak berhasil menyembunyikan kembali bintang-bintang dan bulan
Di sanalah akan kutitipkan hatiku padamu
Ketika semuanya berhenti berdaur ulang
Ketika semuanya tak lagi bergerak pada rotasinya
Ketika waktu tak lagi mengenal siapa detik, dimana menit dan kemana jam
Ketika bintang-bintang membeku dan menyatu membentuk sebuah bulan baru
Dan ketika Tuhan tak lagi melarangku melihat senyummu pertama kali
Sesaat setelah kita menguap bersamaan di pagi hari.
You only get one life. It's actually your duty to live it as fully as possible.

Satu kutipan dari buku Me Before You di atas bisa mewakili hampir ke seluruhan isi cerita di dalamnya. 

Will Traynor, lelaki tampan, sukses dan kaya raya harus menerima kenyataan bahwa kecelakaan lalu lintas yang dialaminya mengubah seluruh jalan hidupnya. Will mengalami quadriplegia C5/6 (cidera tulang belakang) yang menyebabkannya mengalami kelumpuhan pada sebagian besar alat geraknya. Will tidak dapat menggunakan kedua kakinya lagi dan hanya memiliki sedikit kemampuan untuk menggerakkan tangannya atau jarinya. Tidak hanya kelumpuhan, berbagai penyakit dan infeksi juga sering menyerang tubuhnya. Dan Will tau, tidak akan ada kesembuhan untuk penyakitnya.

Di sisi lain Kastel Stortfold, Louisa Clark, gadis lincah yang nyentrik, hidup dalam keterbatasan materi. Ia diberhentikan dari The Buttered Bun karena sang pemilik kafe harus dengan sangat terpaksa kembali ke negara asalnya. Sementara itu, Katrina (adiknya Lou) berhenti melanjutkan kuliahnya dan menjadi penjaga toko bunga. Dan juga Dad yang terancam akan di-PHK dari pabrik tempatnya bekerja. Seluruh tanggung jawab keluarga berada di tangan Lou. 

Melihat semakin memburuknya keadaan di rumah, Lou mencari pekerjaan di Bursa Tenaga Kerja sehari setelah pemecatannya. Tidak ada pekerjaan yang lebih baik dari pada menjadi asisten perawat. Lou hanya memiliki kontrak kerja selama 6 bulan dan dijanjikan gaji yang sangat besar. Lou tidak pernah membayangkan dirinya menjadi asisten perawat. Namun, mengingat banyaknya kebutuhan akan biaya hidup keluarganya, Lou pun menerima pekerjaan itu.

Kehidupan Lou yang baru bermula di sini. 

Wawancara yang dilaluinya bersama Mrs. Traynor, Ibunya Will, membuat Lou tidak yakin akan pilihannya menerima pekerjaan sebagai asisten perawat di rumah mereka. Di satu sisi, pekerjaan ini tidak semenarik pekerjaannya di kafe yang dulu. Ditambah lagi dengan sikap Mrs. Traynor yang terlihat sangat tidak bersahabat. 

Awalnya, Lou merasa kurang nyaman bekerja pada keluarga Traynor. Kesan pertamanya terhadap Will tidak berjalan lancar. Will terlihat ketus dan sangat tertutup. Setiap kali Lou mencoba untuk berbicara dengannya, Will mengabaikannya. Seluruh waktu kerja yang di habiskan Lou mulai dari pukul 8 pagi hingga pukul 5 petang terasa seperti di neraka. Bukan hanya itu, Lou juga harus memastikan segala kebutuhan Will, menjaganya tetap aman dan terbebas dari masalah atau kekambuhan penyakit-penyakit dan infeksinya, serta harus mengetahui segala obat dan antibiotik yang diperlukan Will dalam keadaan darurat ketika perawat pribadinya sedang tidak berada di tempat.

Namun, semakin lama sifat ketus Will tidak menjadi masalah bagi Lou. Lou mencoba mengerti dan memahami apa yang dirasakan oleh Will. Lou bahkan banyak membaca cerita tentang penyakit yang diderita oleh orang-orang yang seperti Will. Ia bahkan bergabung dengan forum penderita quadriplegia melalui internet sekedar berbagi pengalaman dan meminta beberapa saran. 

Lou berhasil menjinakkan Will sedikit demi sedikit. Will mulai mengajaknya menonton film di ruang keluarga bersama-sama, duduk di taman, atau membaca novel yang dibelikan olehnya khusus untuk Lou. Sedikit demi sedikit pula, berbagai rahasia di antara mereka terbongkar. Lou semakin mengenal Will yang sebelum dan sesudah kecelakaan itu. Begitu pula Will yang mulai mengenali kehidupan sederhana seorang Lou, asisten perawatnya.

Hingga pada satu hari, Lou tidak sengaja mendengarkan percakapan tentang Will dari Mrs. Traynor dan Georgia, adik perempuan Will. Sebuah rahasia besar yang mengungkapkan segalanya. Sebuah rahasia yang juga menghancurkan segala usaha dan kerja keras yang dilakukan oleh Lou kepada Will dan keluarga itu.


WARNING: Jangan dimulai, atau jangan diteruskan membaca novel ini kalau kamu belum membaca sekuel pertamanya: If I Stay. Karena kamu akan nggak nyambung banget sama tokoh-tokoh yang muncul dan tragedi-tragedi yang memang bisa dibilang saling berhubungan dengan novel yang sebelumnya. So, pastikan kamu membacanya secara berurutan -If I Stay, Where She Went- supaya bisa mendapatkan pesan yang memang seharusnya kamu dapatkan!

Cerita ini berawal tiga tahun setelah kecelakaan Mia dan keluarganya. Tiga tahun pula sejak Mia dan Adam tidak lagi saling behubungan. Dalam tiga tahun, banyak hal yang berubah. Salah satunya takdir.

Ketenaran, kekayaan, hingar-bingar kehidupan sebagai penyanyi rock tampan yang terkenal sedunia menjadi takdir Adam Wilde. Berkat Mia juga. Putusnya hubungan Adam dan Mia yang berlangsung dengan cara yang tidak semestinya membuat hidup Adam berubah drastis. Mia menjauhi Adam setelah sembuh dari luka akibat kecelakaannya dan trauma yang dirasakannya. Mia juga menghilang, seiring dengan jadwal kuliahnya yang padat di Julliard. 

I get it now. I have to make good on my promise. To let her go. To really let her go. To let us both go.

Dan sejak hari itu, Adam vakum dari bandnya, kembali ke rumah orang tuanya, mengurung diri di kamar dan menjadi Adam yang berbeda. Akhirnya, luka patah hati membuat tangan Adam menuliskan banyak lagu baru. Adam kembali menemui anggota band-nya dengan beberapa lagu yang siap dijadikan album dan akhirnya masuk dapur rekaman, tour di beberapa kota, dan setelah itu karier Adam serta band-nya meroket seketika. 

Setelah terkenal dan memiliki banyak penggemar, hidup Adam tidak menjadi lebih baik. Ia memiliki sindrom panik. Dan tebak apa yang terjadi setelah Adam menjadi terkenal? Adam dipertemukan lagi dengan Mia Hall, setelah tiga tahun lamanya. 

New York, selama 24 jam, pertemuan canggung dengan wanita yang 'pernah' sangat mencintainya. Mia berubah, begitu pula Adam. Pertemuan itu juga membuat mereka bertualang di New York. Hingga di akhir pertemuan mereka, semua pertanyaan yang selama tiga tahun mengendap di dasar hati Adam mulai menguap satu per satu ke udara. Dan satu per satu pula pertanyaan itu terjawab hingga tak ada lagi yang ingin dan yang butuh mereka jelaskan satu sama lain.

You talked to me, but you didn’t. I could see you having these two-sided conversations. The things you wanted to say to me. And the words that actually came out.

Masih seperti If I Stay, novel ini menggunakan narator tunggal atau dengan kata lain novel ini versi kehidupannya Adam. Dan masih seperti novel sebelumnya, Where She Went memiliki kekuatan yang sama dan membuatku membayangkan semua yang ada di dalamnya secara realistis. Tokoh Adam dan Mia terasa benar-benar sederhana namun nyata. Gaya bahasa yang digunakan juga ringan dan mengalir. Dan jelas, tanpa ada satu bagian pun yang terasa hiperbolis di dalamnya. 

There are so many things that demand to be said. Where did you go? Do you ever think about me? You've ruined me. Are you okay? But of course, I can't say any of that.

Where She Went juga memiliki perbedaan dari novel sebelumnya. Dibandingkan dengan novel If I Stay yang lebih banyak menggunakan alur flashback, novel ini lebih banyak menceritakan alur majunya. Namun, kalau sebelumnya kita membaca kisah cinta Adam dan Mia di novel If I Stay tanpa melanjutkan ke novel Where She Went, kita tidak akan pernah menebak bagaimana perasaan Adam yang sesungguhnya pada Mia. Novel ini mempertegas kenyataan bahwa cinta Adam dan Mia bukan cerita cinta-romansa-SMA. Entahlah, tapi aku membayangkan bagaimana rasanya jika aku memiliki Adam Wilde dikehidupanku yang nyata. Adam memiliki cinta yang tidak berkarat, karena ia mencintai tanpa bersyarat.

...and yes, it was a high school romance, but it was still the kind of romance where I thought we were trying to find a way to make it forever...

Menurutku kekurangan novel ini terletak pada musiknya. Di dalam If I Stay pernah dijelaskan bahwa yang mempersatukan Adam dan Mia adalah musik. Namun di novel ini, musik tidak terasa se-bernyawa-nya di novel If I Stay. Di novel If I Stay, jelas terlihat bagaimana musik seperti cupid yang mendekatkan Adam dan Mia, menyatukan mereka dan juga memisahkan mereka. Tapi di novel ini, kekuatan musik Adam tidak terlalu menonjol. Tapi ini salah satu lirik lagu Collateral Damage yang paling aku suka. 

"First you inspect me
Then you dissect me
Then you reject me
I wait for the day
That you'll resurrect me"
-Animate-

Somehow, If I Stay dan Where She Went tetap menjadi novel kesukaanku. Yang jelas, keduanya bukan sembarang novel romance yang menjelaskan seluk-beluk percintaan cengeng dan membosankan. Banyak pesan yang melekat -harusnya-. Karena setelah membaca buku ini, aku menyimpulkan bahwa novel ini bukan hanya memperlihatkan bagaimana cinta itu harusnya 'diperlakukan', tapi juga memberikan kita gambaran tentang bagaimana pentingnya menghargai sebuah 'kehadiran' dan betapa 'hinanya' perasaan 'kehilangan'.

In the calculus of feelings, you never really know how one person's absence will affect you more than another's.



Judul: Where She Went
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2011
Tebal: 240 hl





Aku tak pernah peduli,
Seberapa keriput masa lalumu
Atau seberapa buram kisahmu dulu.

Aku tak ingin peduli,
Banyaknya bocah rindu yang lahir darimu
Atau yang pula mati di dalam rahim lukamu.

Kumohon dengarkan aku,
Bercerailah dengan lukamu
Dan menikahlah dengan hatiku.
Judul Buku: Just One Day
Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chufsani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2013
Tebal: 400 halaman
Rating: 4.1/5

Buku ketiga karangan Gayle Forman yang berhasil ku'adopsi'. Gayle Forman adalah penulis If I Stay dan Where She Went yang bukunya sudah jadi International Best Seller dan di-film-kan. Dan kamu harusnya sudah bisa bayangkan sendiri seperti apa buku ini. 

Just One Day mengambil sudut pandang tokoh utama wanitanya, Allyson Healey. Sebagai gambaran awal, Allyson ini adalah anak tunggal. Well, -seperti kebanyakan- anak tunggal, Mom akan menjadi orang yang super-over-protective. Segala sesuatu dalam hidup Allyson dijadwalkan, diatur, ditata, dan dirancang oleh Mom. Bahkan untuk cita-citanya, Allyson pun harus menuruti keinginan Mom. Istilah kasarnya, Allyson 'dicetak' sesuai dengan keinginan Mom. 

Tapi semua itu berputar berlawanan arah sejak pertemuan tak sengaja yang terjadi saat Allyson sedang tour keliling Eropa. Allyson dan Melanie, sahabatnya, mendapat tiket tour keliling Eropa dari orang tua mereka sebagai hadiah kelulusan SMA. Dan tiba di negara terakhir dari tour mereka, London, Allyson dan Melanie bertemu dengan seorang lelaki tampan yang membagikan brosur street performance. Dengan sedikit keberanian dan rasa penasaran dengan lelaki-tampan-pembagi-borsur tadi, Allyson dan Melanie terpaksa menipu tour guide mereka. Hasil dari menipu itu adalah, mereka -Allyson dan Melanie- tidak jadi menonton Hamlet di teater bersama anak-anak lainnya, tapi malah menelusuri London di malam hari dan menonton pertunjukan teater jalanan. 

Allyson terpesona dan tersentuh dengan pertunjukan Twelfth Night -karya Shakespare- yang dipertunjukkan oleh Gerillya Will, kelompok teater jalanan. Terlebih lagi pada pemeran Sebastian, lelaki-tampan-pembagi-brosur itu. Allyson benar-benar menikmati pertunjukan -teater dan 'Sebastian'. Di akhir pertunjukan, 'Sebastian' melemparkan sebuah koin kuno ke pada Allyson dan disambut dengan baik olehnya. 

Paginya, sebelum kembali pulang ke Amerika, Allyson bertemu lagi dengan Willem (pemeran Sebastian di teater jalanan) di stasiun kereta. Sebastian aka Willem, memberinya nama Lulu yang diambil dari nama aktris Louise Brooks -yang mempopulerkan model rambut bob-, karena Allyson juga memiliki gaya rambut yang sama. Dan menjelang perpisahan mereka -Allyson akan kembali ke Amerika dan Willem kembali ke Belanda-, Willem mengajak Allyson untuk bertualang ke Paris. Allyson sangat menginginkannya, karena semestinya tour keliling Eropa ini memang membawanya ke Paris, namun karena sesuatu hal, akhirnya rombongan tour tidak jadi ke Paris. 

Allyson sudah menjadi Lulu. Dan Lulu berbeda dengan Allyson. Lulu bukan gadis penurut dan penuh aturan. Lulu bukan Allyson yang hidup dalam kamar tanpa pintu atau jendela. Lulu gadis petualang yang bebas, berani, dan bisa berkata 'ya'. Berkat siapa? Berkat Willem! Willem memperkenalkan pada Lulu -Allyson- banyak hal selama perjalanan mereka ke Paris. Mulai dari karya-karya Shakespare, kanal-kanal di negara Belanda, sampai mengajarkan pada Lulu perbedaan antara being in love dan falling in love

Perjalanan di Paris selama setengah hari bersama Willem benar-benar membuat Lulu merasa perjalanan tour di negara-negara sebelumnya bersama rombongan tour tidak ada apa-apanya. Perjalanan yang hanya akan berlangsung selama satu hari bersama Willem benar-benar telah mengukir banyak kenangan di memori dan hati Lulu. 'Kecelakaan' demi 'kecelakaan' mereka lewati bersama. Dan untuk pertama kalinya, Allyson yang telah berubah menjadi Lulu Si Pemberani merasakan arti hidup, kebebasan, dan perasaan bahagia yang sesungguhnya bersama Willem, orang asing yang baru ditemuinya kemarin. Allyson bisa berkata jujur, terbuka dan 'apa-adanya' di hadapan Willem. Allyson's Willem just reminds me of my 'Willem'.

Dan seperti janji Willem di hari sebelumnya, perjalanan mereka di Paris hanya satu hari. Tepat setelah matahari muncul dari timur kota Paris, Willem telah pergi. Lulu kembali menjadi Allyson. Allyson yang penakut, teratur, dan mulai kehilangan arah. Allyson ditinggalkan dalam kedaan miskin -tidak punya sepeser euro lagi-. Dan dengan bantuan Ms. Foley, tour guide perjalanan keliling Eropa kemarin, Lulu aka Allyson bisa kembali ke Amerika dengan selamat. 

Tidak sampai di situ. Perjalanan Allyson dalam Just One Day masih berlanjut. Aku nggak akan spoiler. Kamu harus cari tau sendiri, karena banyak hal yang bakal membuatmu tercengang dan berpikir sama sepertiku bahwa 'nggak ada yang namanya kebetulan.' Seperti kata Napoleon Bonaparte -yang juga kupercayai-, "There is no such thing as accident; it is fate misnamed." Segala kejadian yang terjadi dalam hidup sebenarnya adalah jalan yang sudah 'ditentukan' arahnya, hanya saja kita menjumpai 'jalan' tersebut dengan persepsi dan dalam keadaan yang tidak terduga atau kadang-kadan terasa sangat 'ajaib'.

Jangan puas sampai di sini karena Just One Day punya sekuel dengan judul Just One Year. So, siap-siap dibawa tour keliling London, Paris dan Belanda oleh Gayle Forman. Gayle benar-benar pintar membuat kita merasa sedang berjalan-jalan melintasi kebun tulip, melihat kincir angin, lalu makan macaron warna-warni, atau berjalan di tepi sungai Seine, dan menjelajahi gang-gang kecil berudara uap kopi di kota Paris. 

Seperti biasa, kupilihkan beberapa quotes yang kusuka dan mungkin bisa membuatmu semakin ingin membaca buku ini:

We are born in one day. We die in one day. We can change in one day. And we can fall in love in one day. Anything can happen in just one day. -Allyson

You have to fall in love to be in love, but falling in love isn't the same as being in love. -Willem

And that's when I understand that I have been stained. Whether I'm still in love with him, whether he was ever in love with me, and no matter who he's in love with now, Willem changed my life. He showed me how to get lost, and then I showed myself how to get found. -Allyson

 "Goeiemorgen," katanya, dengan suara masih kental oleh kantuk. --- "Kurasa itu artinya selamat pagi, meski sebenarnya sekarang masih sore." --- "Kau lupa, waktu tidak berlaku lagi. Kau memberikannya padaku."
"Aku akan jadi gadis gunungmu dan akan merawatmu." --- "Dan sebagai balasannya, aku akan membebaskanmu dari kungkungan waktu." Dia menyelipkan arlojiku dalam pergelangan tangannya, tempat benda itu tidak kelihatan seperti borgol.


Just One Day by Gayle Forman photo Just-One-Day_510x765.jpg




... yang terpenting adalah mengetahui bahwa cinta ini bisa kuberikan, tanpa tuntutan atau harapan. -John

Well, baru beberapa jam yang lalu novel ini selesai kulahap. Kesan setelah itu, "mungkin beberapa bulan lagi aku akan baca ulang, lagi, lagi dan lagi." Tidak bermaksud hiperbolis, tapi nyata kalau novel ini benar-benar karya Nicholas Sparks yang bikin pembacanya -atau mungkin aku, tapi kuyakin semua orang yang gila novel romance- menangis dan tertawa dalam waktu yang bersamaan. Jujur, ada beberapa bagian yang buat mataku kabur, lebih tepatnya sama air mata. 

John Tyree, 23 tahun. Pemuda dari pesisir pantai Wilmington, North Carolina, yang dengan cara Tuhan menemukan cinta sejatinya, bisa dikatakan seperti itu. John tinggal bersama ayahnya yang menggilai koin-koin kuno, kaku, pendiam, pemalu dan juga kurang bisa bersosialisasi dengan lingkungannya. Sejak kecil, John tidak pernah mengenali siapa ibunya. Dan ia tidak pernah meminta ayahnya untuk menceritakan tentang itu, dan baginya ia tidak butuh tahu. 

Terlepas dari semua itu, sebagai anak remaja yang sedang dalam masa-masa mencari jati dirinya, John tumbuh menjadi pemuda yang 'berantakan'. Maksudku, dia tidak benar-benar belajar selama di kelasnya, dia tidak memiliki teman-teman yang sesuai. John bahkan tidak yakin ia diluluskan dari SMA-nya karena benar-benar bisa lulus atau karena pihak sekolah tidak ingin menangani murid nakal sepertinya lagi. Dan di luar semua itu, ayah John tidak pernah marah atau menuntut lebih darinya.

Beberapa tahun setelah tamat SMA, John berpindah-pindah pekerjaan paruh waktu, menghabiskan hari-harinya di bar bersama teman senasib -tidak punya masa depan cerah-, berselancar, dan pulang ketika ingin pulang. Hingga tiba waktunya di mana John merasa bahwa yang ia lakukan tidak cukup benar. John ingin lebih dari itu. Ia ingin seperti teman-temannya yang sukses, memiliki barang-barang mahal, dan kehidupan yang lebih baik. John dan ayahnya memang tidak mengalami kekurangan dalam biaya hidup sehari-hari. Hanya saja kehidupan yang terlalu monoton bersama ayahnya membuat semua kesederhanaan hidup tidak menjadi cukup.

Ia juga muak dengan permbahasan ayahnya tentang koin-koin itu. Di sinilah masalahnya. Ayah John tidak bisa berbicara atau tidak punya topik lain yang ingin dibahasnya kecuali tentang koin dan koin. Hingga tiba di mana John bosan dan memutuskan untuk mendaftar menjadi tentara angkatan laut -setidaknya dia punya kegiatan lain selain duduk di rumah dan mendengarkan ayahnya bicara tentang koin-. 

Namun takdir berbelok lagi. Penjaga pendaftaran di kantor militer angkatan laut saat itu sedang beristirahat makan siang, akhirnya John memutuskan untuk mendaftar di militer angkatan darat yang kantornya hanya berseberangan jalan. John tidak mempermasalahkan itu. Walaupun ia menginginkan angkatan laut, tapi baginya, di manapun itu -angkatan darat atau laut-, keduanya sama-sama menggunakan senjata untuk melumpuhkan musuh.

Lalu, cuti pertamanya setelah resmi menjadi anggota militer, John kembali ke rumah ayahnya. Dan setelah mengikuti pelatihan militer, John merasa telah ada yang berubah dalam dirinya. Ia menjadi lebih dewasa dibandingkan sebelumnya. Setidaknya, selama di kamp pelatihan militer, John benar-benar menjadi pelajar yang baik dan tidak pernah membuat masalah. 

Sementara itu, di pesisir pantai Wilmington, dua hati dipertemukan Tuhan. Tanpa sengaja, John bertemu dengan mahasiswa yang -kebetulan- sedang mengadakan semacam bakti sosial -membangun rumah untuk penduduk kurang mampu- di daerah pesisir tempat John sering berselancar. Hanya dengan permulaan kata 'hai' dan kecelakaan kecil, John dan Savannah bertemu. Ketika tatapan mata John bertemu dengan mata Savannah, segalanya terasa nyata. Entah cinta pada pandangan pertama atau memang ada jalan -takdir- yang membuat mereka merasakan bahwa, 'Ah, ya! Aku sudah berjodoh dengan orang ini.' 

Baiklah, terdengar berlebihan sementara ini hanya cerita dari dalam novel fiktif. Tapi maksudku adalah, bagaimana Sparks mampu mengungkapkan kejadian-kejadian yang sederhana di antara John dan Savannah menjadi lebih dan selalu manis untuk dikenang. Belum lagi caranya - Sparks- mengungkapkan tiap detil setting dalam buku ini. Ia mampu mengungkapkan ombak laut dari kumpulan kata-kata 'pasif' menjadi sangat nyata. Rasanya seperti benar-benar sedang berada di bibir pantai, melihat rumah pantai, berselancar di tengah ombak dan lain sebagainya. Singkatnya, menurutku Sparks ahli dalam urusan membuat kita berkhayal seperti ingin dia gambarkan. 

Konflik pertama antara John, Savannah dan Ayahnya John memang terbilang tidak terlalu rumit, menurutku. Namun, solusi dari konflik malah membuat tokoh-tokoh di dalamnya menjadi lebih 'dekat'. Sementara konflik antara John dan Savannah yang dimulai ketika John harus kembali ke Jerman -semacam misi perdamaian-, mulai terasa rumit. Melihat bagaimana John dan Savannah berjuang mempertahankan hubungan yang mereka bina hanya lewat surat dan telepon yang terbilang jarang. Menyesakkan, tapi manis. 

Baiklah, aku tidak akan spoiler tentang kejadian-kejadian penting yang memang harusnya kalian baca sendiri. Yang jelas, kalau kalian termasuk penggila bacaan romance, Dear John adalah buku romance dengan kisah cinta dua anak desa yang berkelas -tidak kampungan dengan segala remeh-temeh membosankan-. Nah, perlu diingat juga, dalam buku ini, Sparks tidak hanya mengungkapkan betapa luar biasanya kekuatan dan ketulusan cinta dua insan berbeda jenis kelamin, tapi juga bagaimana indahnya hubungan ayah-anak (keluarga) dan juga hubungan manusia dengan alam. Ditambah lagi dengan beberapa pengetahuan dari segi psikologi -yang membahas sindrom Asperger, yang kata Savannah diderita oleh ayah John-, beberapa sentuhan ilmu kedokteran dan percakapan-percakapan yang mengungkapkan betapa pentingnya hubungan sosial sesama manusia.

Dan, ya! Aku cinta John, juga Savannah. Menyerupai cintaku pada Adam di novel If I Stay. Mereka adalah laki-laki sejati -setidaknya dalam berlembar-lembar halaman novel-. Aku menyukai John yang bersikap dewasa menghadapi Savannah. Menyukai John yang menghormati dan menghargai Savannah sebagai wanita religius dan gadis baik-baik. Well, John tidak sembarangan 'menyentuh' Savannah, sekalipun entah berapa ratusan atau ribuan kali ia ingin melakukannya. Dan John sama sekali tidak mempermasalahkan setiap kekurangan yang dimiliki Savannah. Dia benar-benar mencintai dengan gila, atau dengan tulus, atau lebih dari itu -sekali lagi, setidaknya dalam novel ini-.

Dan Savannah, aku menyukai beberapa prinsipnya. Sedikit banyak, Savannah dan aku -baikalah, lupakan kata 'aku'-, mirip. Jangan bayangkan bahwa aku secantik Savannah yang digambarkan Sparks dalam novelnya. Aku suka sifatnya yang 'liar'. Maksudku, dia sangat dekat dengan alam. Aku suka -seperti halnya Savannah menyukai- pegunungan, aku suka melihat Savannah menyukai kuda-kuda perliharannya, aku suka sifat religiusnya, aku suka kepatuhan Savannah pada kedua orang tuanya, aku suka cara Savannah mencintai John tanpa mempermasalahkan masa lalu John yang berantakan dan segala kekurangan di dalam diri John, dan aku suka bagaimana Savannah menjaga kehormatannya sebagai gadis baik-baik, dengan keteguhannya, moral-moral dan sentuhan religiusnya. Yang paling penting, ia tidak sembarangan memberikan 'segalanya' untuk 'siapapun'. Benar-benar terdengar religius, juga kuno, tapi memperingatkan kaum hawa; bahwa perempuan itu bukan barang murahan yang bisa 'dipakai' dan 'disentuh' semaunya oleh sembarangngan orang. Dan, ya! Sekali lagi ini hanya novel. Jangan terlalu serius pada hal-hal yang mungkin bertentangan dengan cara pikirmu. Nikmati, pahami, dan cukup untuk hiburan bagi diri sendiri.

Sebenarnya masih banyak yang ingin kubahas. Tapi rasanya aku akan sanggup membongkar sampai detil-detil yang harusnya kalian baca sendiri. Over all, aku mulai menyukai tulisan Nicholas Sparks. Mungkin harus melakukan pemburuan lebih lanjut terhadap buku-buku karangannya. By the way, aku bisa sangat beruntung mendapatkan Dear John ini sebagai -bisa dikatakan hadiah- dari seorang kakak yang sangat baik hati bernama Seiska. LOL -Lots of Love-

Baiklah! Seperti biasa, mungkin beberapa quotes akan menambahkan kesan 'rating 4' untuk novel ini. 

I finally understood what true love meant...love meant that you care for another person's happiness more than your own, no matter how painful the choices you face might be. -John

I love you, not just for now, but for always, and I dream of the day that you’ll take me in your arms again.

If you come back; I'll marry you. If you break your promise, you'll break my heart. -Savannah

Dear John, tell me everything. Write it all down, that way, we’ll be with each other all the time, even if we’re not with each other at all. -Savannah

There are memories for both of us, of course, but I've learned that memories can have a physical, almost living presence, and in this, Savannah and I are different as well.If hers are stars in the nighttime sky, mine are the haunted empty spaces in beetween. -John



Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home